Adventure Culture Travel Travelling

Semalam di Hat Yai

on
April 21, 2020

Jika berkunjung ke Penang, tak ada salahnya untuk mencoba perjalanan ke Hat Yai. Hat Yai berada di provinsi Songkhla, Thailand Selatan. Provinsi ini berbatasan langsung dengan Malaysia.

Perjalanan Merin dan aku dimulai dari Bandar Udara Internasional Pulau Pinang. Setibanya, kami membeli perbekalan di minimarket bandara. Karena akan langsung melanjutkan perjalanan ke Hat Yai. Setelahnya, kami keluar dan mencari Rapid Penang. Bus yang bertujuan ke Komtar. Dari sanalah, kami akan berangkat ke Hat Yai menggunakan travel.

Setiba di Komtar, bus travel menuju Hat Yai telah berangkat. Oh tidak tidak, kami terlambat 10 menit! Aaarghh!!!

Nasi sudah menjadi bubur. Karena jadwal keberangkatan berikutnya ialah pukul 15:00, mau tak mau kami harus menunggu 3 jam lagi. Hiks.

Biaya travel ke Hat Yai adalah 35 MYR. Setelah membayar, Merin dan aku berjalan-jalan di area Komtar. Iseng, kami juga memasuki Prangin Mall. Tapi kemudian urung dan melangkah keluar lagi.

“Yakin ke sini mau ngemall?” Tanyaku pada Merin.

“Enggak sih. Ya udah, keluar aja yuk. Hahaha.” jawab Merin.

Kami akhirnya jajan es krim sebagai penawar rasa sedih. Dan, memilih makan siang di terminal. Ada berbagai menu ditawarkan. Nasi kandar, nasi lemak, dan prasmanan. Uniknya, di sini juga dijual berbagai kue basah. Seperti kue cucur, cincin, juga dadar gulung.

Menurut informasi yang kami peroleh, perjalanan menuju Hat Yai cukup memakan waktu. Kurang lebih 3 hingga 4 jam. Di mini van, kami mendapat selembar arrival card. Sama seperti perjalanan ke Thailand sebelumnya, kami harus mengisi pertanyaan yang tertera di sana. Dimana akan menginap, berapa hari, berapa jumlah uang yang dibawa, dan sebagainya.

Setelah kurang lebih 2.5 jam perjalanan, kami tiba di kantor imigrasi Sadao. Sadao merupakan daerah perbatasan Thailand dan Malaysia. Di sini seluruh penumpang harus turun untuk mengantri cap paspor. Tak terkecuali Merin dan aku. Tak lupa, kami juga menyerahkan arrival card.

Perjalanan masih panjang. Kira-kira 1 jam lagi. Cacing-cacing mulai menabuh dinding lambungku. Lapar rasanya. Aku kemudian merogoh isi carrier. Mendapati roti yang telah dibeli di Bandara Penang.

“Kalau tadi dapat travel siang, bisa kelaparan kita di jalan. Empat jam cooy. Nenggak promag dah.” Kataku pada Merin.

“Iya, tapi kalau malam kita juga enggak bisa banyak eksplore Hat Yai cuy.” Balas Merin. Kami lalu tertawa. Yah, sama-sama ada enggak enaknya sih.

Hat Yai

Setiba di Hat Yai, sopir travel mengantar penumpang satu per satu. Karena cukup jauh, Merin dan aku diantar terakhir. Kami diantar hingga Silla House. Hostel yang akan menjadi tempat menginap kami malam itu.

Usai late check in, Merin dan aku menuju kamar untuk meletakkan barang. Kamar berada di lantai 3 dan kami harus naik dengan tangga. Ternyata sedang ada 2 perempuan bersenda gurau di lantai 2. Mereka adalah pelancong dari negeri jiran, Malaysia.

“Hello”, sapa Merin dan aku. Mereka membalas. Kemudian, kami bercakap-cakap. Mulai dari membahas rencana perjalanan hingga bertukar cerita tentang masing-masing negara asal.

“Penang – Hat Yai – Langkawi – Penang? Kenapa rancangannya pusing-pusing?” Tanyanya dengan Bahasa Melayu.

Aku dan Merin nyengir. “Is that possible?” Tanya Merin kemudian.

Mereka masih terheran-heran dengan itinerary yang kami buat. Meski demikian, mereka tetap memberi banyak masukan. Juga, menyarankan untuk bertanya pada pemilik hostel. Barangkali ia lebih paham mengenai waktu dan rutenya. Karena perjalanan kami esok hari sangat berpacu dengan waktu.

Usai berbincang-bincang, Merin dan aku meletakkan carrier di kamar. Lalu, kami keluar untuk mencari makan malam. Kami berjalan mengikuti kemana langkah kaki menuntun. Tanpa google maps. Tentu saja karena belum mempunyai lokal SIM. Beruntung di Niphat Phakdi Alley kami menemukan Seven Eleven dan penjual makanan. Bahkan, ada toko seluler juga di sana. Yaay!

Toko seluler terletak persis di samping Seven Eleven. Harga yang ditawarkan cukup mahal. Kami harus membeli lokal SIM. Juga, paket data internet untuk pemakaian selama 24 jam. Ternyata keduanya dijual terpisah. Karena itu harganya menjadi 140 THB.

Pembelian lokal SIM ini berjalan cukup lama. Hampir 30 menit. Kenapa? Karena sang penjual tidak bisa berbahasa Inggris dan Melayu. Sedangkan Merin dan aku tidak bisa berbahasa Thailand. Kecuali Sawaddi Ka dan Khop Kun Ka.

Usai membeli lokal SIM, kami membeli makan malam. Lalu, kembali ke hostel untuk menyantapnya. Setelah mencuci piring yang digunakan untuk makan, kami keluar hostel lagi. Menikmati kehidupan kota Hat Yai di malam hari.

Pagi menjelang. Tak terasa jam hampir menunjukkan pukul 07:30. Aku berjalan gontai ke beranda hostel. Menyesap udara pagi Kota Hat Yai. Tiba-tiba, pandanganku teralihkan oleh aktivitas di seberang jalan. Seorang pegawai klinik hewan tengah bebersih. Mungkin klinik akan segera dibuka. Di sebelahnya, toko penjual makanan pun mulai didatangi pembeli.

Karena tertarik melihat aktivitas lainnya, aku pun mandi. Lalu, berjalan keluar hostel.

“After come back from Municipal Park, we will take you to the bus station. From there, you’ll go to Tammalang Pier by travel. It takes around 2 hours. The ferry will depart maybe around 3:00 PM. So, remember to come back here at 12:00 PM. Don’t be late, okay?”

Aku telah kembali ke hostel. Jam kini tengah beranjak ke pukul 9:00. Merin dan aku mendapatkan motor sewaan seharga 250 THB. Kemudian, kami dijelaskan bagaimana cara menuju Pelabuhan Tammalang di Satun. Oh iya, kami juga mendapat fasilitas pengantaran gratis ke terminal bus Hat Yai. Karena hanya menyewa motor selama 2 jam.

Hat Yai Municipal Park

Hat Yai Municipal Park terletak di Kanchanawanit Rd., Kho Hong, Hat Yai, Songkhla 90110, Thailand. Waktu tempuh dari Silla House kurang lebih 25 menit dengan motor. Lalu, berapa biaya yang dipungut untuk masuk ke dalam taman ini? Tidak ada alias gratis.

Karena diperbolehkan berkeliling dengan kendaraan sendiri, Merin dan aku memilih naik motor. Di pelataran parkir, beberapa shuttle songthaew berbaris. Hmm… Lalu, ada apa saja sih di tempat ini?

The Great Brahman Shrine

Dari pintu masuk, kami mengikuti papan petunjuk melewati jalur yang berliku-liku. Di kanan kiri pepohonan rimbun mengantar perjalanan kami. Tak lama, telihat sebuah pelataran. Merin kemudian memarkirkan motor. Lalu menaiki satu per satu anak tangga yang ada. Di sebelah kanan, menara cable car menjulang. Tapi, aku tak menemukan pintu masuknya.

Kami kembali menaiki anak tangga. Setiba di bagian atas, lagi-lagi kami bertemu dengan pelataran. Di sebelah kiri sebuah patung gajah berkepala tiga menyambut kami. Di Thailand, gajah ini dikenal dengan nama Erawan. Sedangkan dalam mitologi Hindu, ia dikenal dengan nama Airawata. Yang merupakan tunggangan Dewa Indra

Lagi, kami menaiki tangga hingga tiba di The Great Brahman Shrine. Di sini, terdapat Four Faced Buddha.

Di Thailand, Four Faced Buddha dikenal juga dengan Phra Phrom. Dilansir dari Wikipedia, Phra Phrom adalah representasi Dewa Brahma dalam Hinduisme di Thailand. Budaya Thailand memujanya sebagai dewa keberuntungan dan perlindungan.

Wujud Phra Phrom umumnya memiliki empat wajah yang menggambarkan empat masa penciptaan. Delapan telinga yang welas asih mendengarkan doa dari seluruh makhluk hidup. Dan, delapan tangan yang membawa alat-alat keagamaan yang dipercaya memiliki makna khusus.

Meski terik, siang itu pengunjung cukup ramai. Bau dupa perlahan menyesaki hidungku. Para pengunjung terlihat khusyuk. Membakar dupa sembari berdoa dan memohon berkah di hadapan para dewa.

Di sudut lain, segelintir orang membakar petasan merah. Mereka menyalakan sumbu. Kemudian, api merambat dan membakar petasan satu per satu. Suara meletup-letup meramaikan kuil. Asap pun mengepul. Menurut mereka, tradisi ini merupakan wujud penghormatan kepada para dewa.

Phra Buddha Mongkol Maharaj

Bangkok dan Chiang Mai terkenal dengan Reclining Buddha Statue atau Patung Buddha Tidur. Sedangkan Hat Yai terkenal dengan Phra Buddha Mongkol Maharaj. Golden Standing Buddha tertinggi di Hat Yai. Patung yang mengarahkan pandang ke provinsi Songkhla ini memiliki berat 200 ton. Dan berada di ketinggian 25 meter.

“Ternyata di sini toh pintu masuknya.” Aku yang tadi mencari pintu masuk cable car akhirnya menemukannya. Letaknya persis di seberang Phra Buddha Mongkol Maharaj. Jika berjalan dari area parkir, pintunya ada di sebelah kanan. Oh iya, ada harga yang harus dibayar untuk menaikinya ya. Sayang, karena sisa waktu hanya setengah jam, Merin dan aku tidak bisa menaikinya.

Waktu telah menunjukkan pukul 11:15. Kami harus segera kembali ke hostel. Sangat disayangkan, ada banyak objek di taman ini yang tidak bisa kami kunjungi. Hat Yai Deep Sky Observatorium for Science & Astronomy, The Monument of Rama, Guan Yi, Happy Buddha, dan lainnya. Entahlah, semoga saja suatu saat nanti.

Perjalanan yang diburu waktu membuat Merin tancap gas. Sialnya, beberapa kali kami tersasar melewati jalan-jalan kecil. Untung saja, kami bisa tiba sebelum pukul 12:00. Tanpa berlama-lama, kami mengambil carrier dan berpamitan dengan pemilik hostel. Tak lupa untuk berterima kasih. Tanpa bantuan mereka, kami pasti bingung bagaimana mengatur waktu yang sangat mepet ini.

Dengan songthaew, Uncle mengantar kami hingga terminal bus. Karena Merin dan aku tak bisa berbahasa Thailand, beliau berinisiatif memesankan tiket travel di loket. Serta menyampaikan bahwa tujuan kami adalah Pelabuhan Tammalang.

Usai membayar 130 THB dan penumpang telah penuh, mini van melaju. Kurang lebih 2 jam waktu ditempuh untuk tiba di Pelabuhan Tammalang. Tak disangka, kami tiba lebih awal. Kapal penyeberangan ke Langkawi akan berangkat 30 menit lagi dengan biaya 350 THB. Aaah syukurlaaah, kami tepat waktu.

TAGS
RELATED POSTS
28 Comments
  1. Reply

    Agnes

    April 22, 2020

    Wah perjalanan yang seru ya kak, sayang ga bisa mengunjungi semua destinasinya, kenapa ga stay lebih lama di Hat Yai kak? ak penasaran sama Deep Sky Observatoriumnya πŸ˜…

  2. Reply

    inez

    April 22, 2020

    nanggung ya cuma semalam. coba bisa beberapa hari di sini.

  3. Reply

    Rivai Hidayat

    April 22, 2020

    Berasa numpang tidur di Hat Yai kak πŸ˜€
    jadwal perjalanannya sangat padat yaa, sampai keburu-buru meninggalkan Hat Yai.
    semoga bisa balik ke Hat Yai, agar bisa eksplore banyak tempat dan mengenal baik pemilik hostel. πŸ˜€

  4. Reply

    Febi

    April 22, 2020

    Gw termasuk yang suka sama wisata sejarah atau religi, jadi kalo lagi bolang sukaa sm tempat-tempat kayak gini..
    Nice infoo..hehe..

  5. Reply

    Iqbal

    April 24, 2020

    Lisa seru ya perjalanannya… Kalau lihat foto2nya, ini kota rada mirip Lhokseumawe di Aceh, terutama kabel2 yang melintang di atas kanan kiri jalan. Tapi tentu di Aceh gak ada patung2an

  6. Reply

    Retno Nur Fitri

    April 25, 2020

    Semalaman di Hat Yai rasanya belum cukup ya kak sampai harus mengejar waktu heheh. Perjalanannya sungguh menyenangkan sekali kak, berwisata religi budaya Thai.. Semoga bisa kesana lagi kak, supaya bisa eksplor tempat wisatanya lebih banyak lagi

  7. Reply

    inna

    April 25, 2020

    Semalam aja seru banget gimana kalau tambah lama ya, aku sering banget nie ditawari untuk jalan2 ke penang belum terealisasi haha.

  8. Reply

    Rara

    April 25, 2020

    Serunya travelling itu ya itu, kita bisa ketemu banyak sekali oramg baik yang membantu kita melancarkan perjalanan. Ah baik banget pemilik hostelnya hehe

  9. Reply

    Deny Oey

    April 25, 2020

    Meski jadi seperti transit, Hat Yai memberikan pengalaman tak terlupakan ya. Berkeliling kota dan bertemu dengan orangΒ² baik yg siap membantu..

    Ditunggu cerita selanjutnya..

  10. Reply

    Antin Aprianti

    April 25, 2020

    Perjalanan yang seru sekali kak. Asik banget lihat pemandangan kota Hat Yai dari pelataran Phra Buddha Mongkol Maharaj, sayang banyak objek di taman yang nggak sempat dikunjungi ya. Kayanya suruh balik lagi ke sana buat eksplore kak hehe

  11. Reply

    Eka Rahmawati

    April 26, 2020

    Saya jadi kangen jalan2 ke Thailand setelah baca tulisan kakak hehehe. Sayang cuma eksplore sehari di Hat Yai ya hehehe.

  12. Reply

    Sally

    April 26, 2020

    Kamu jalan2 atau iseng sih kak? Hahaha masa cuma semalam, tapi walau semalam tetap banyak pengalaman yang didapat yaa. Hat Yai asyik juga yaa…

  13. Reply

    Putri Reno

    April 26, 2020

    Wkwkwk, Terlambat, berpacu dengan waktu. Seru saatndi ceritakan kembali. Pas kejadian ada beberapa perasaan bercampur aduk. Memang yang namanya hikmah itu kelihatan kalau sudah berlalu.

    Perjalan yang seru, begitu banyk orang baik di bumi ini. Aku senang. Selalu ada pertolongan yang tak disangka-sangka. Ga sabar nih baca lanjutan cerita di Langkawi. Setelah baca cerita perjalanan Lisa di Hat Yai. Langkawi pasti menarik karena ada pantainya hehhe

  14. Reply

    endah marina

    April 27, 2020

    seruuu bangett kak meski hanya semalam saja, duhh aku gak bakal kebayang sepanik apa kalo hanya iten semalam doang. secara yah kan pengen eksplore sini eksplore sana teruma kulinerannya, itu yg booking tiket dari orang hostel nya ya?? wahh baik sekali orang hostel nya kak..

  15. Reply

    Oktanti Hapsari

    April 27, 2020

    Wih seru banget jalan-jalan ke sana, apalagi saat perjalanan yang dari Silla House dengan motor itu tidak dipungut biaya, hehe

  16. Reply

    BayuFitri

    April 27, 2020

    semalam jln di Hat Yai sdh seru dan bisa beberapa tempat ya kak..gimna klo lbh dari semalam wuih asyik banget pasti…semoga bisa kesana lagi dng durasi kunjungan yg lbh lama ya..

  17. Reply

    Tuty Prihartiny

    April 27, 2020

    Pas lha, kaklis dijuluki si kancil, walaupun hanya singgah sebentar di Hat Yai, tetap seru dan asik. Salut dengan smart traveller seperti kaklis. Kalau mo balik ke sana, ajak2 atuh kak..

  18. Reply

    Sri Raditiningsih

    April 27, 2020

    Ini cuma semalem aja rasanya kaya berkesan banget yaa apalagi kalau sampai 2-3 hari pasti bisa eksplore banyak tempat dan lebih seru lagi.

  19. Reply

    Ifa Mutia

    April 27, 2020

    Ternyata ada tradisi bakar petasan juga ya di kuil Budha.
    Sayang ada beberapa tempat yang tidak sempat dikunjungi di Hat Yai.
    Walau begitu seru juga nih cerita traveling nya.

  20. Reply

    Mrs.kingdom17

    April 28, 2020

    Entah kenapa meski cuma baca berasa engap sndiri…. cepet banget pindahnya…. Kalo aku gak sanggup kayaknya. Hehehe. Untungnya temen seperjalananya sefrekuensi jd apapun yg terjadi tetap enjoy ya Kak..

  21. Reply

    Nani Kurniasari

    April 28, 2020

    fadatthh syekali jadwalnya bebbb, hebaaat ngga berantem sama temen seperjalanan hahhaha, malah menikmatinya bareng bareng…serunya jalan bareng sahabat

  22. Reply

    Harjuna

    April 28, 2020

    Seru banget kak kisah perjalanan ke Hat Yai, tapi sayang masih banyak objek di taman yang belum sempat dikunjungi. Semoga suatau saat nanti bisa ke sana lagi ya kak.

  23. Reply

    Dewi Setyowati

    April 28, 2020

    Asyik banget petualangan di Hat Yai Mbak…sayang ada beberapa tempat yang nggak keburu dikunjungi ya…semoga bisa ke sana lagi.

  24. Reply

    Nia

    April 28, 2020

    Aku bacanya agak ngos-ngosan karena takut dikejar waktu. Perjalanannya singkat, semoga next time bisa explore lebih banyak lagi kak.

  25. Reply

    Dian Restu Agustina

    April 28, 2020

    Penang – Hat Yai – Langkawi – Penang..Aku juga pusing dengan itinerary ini hihihi. Tapi ada serunya karena pernah ketinggalan travel bus, tapi kemudian di waktu yang mepet bisa eksplor Hat Yai. Ah, keren ini Kak Lisa!

  26. Reply

    elsalova

    April 29, 2020

    Seru banget perjalanannya di Hat Yai. Eh btw, ngomong-ngomong ketinggalan travel. Mungkin aku akan ke mall juga. wkwkwk

    Dijogja aja pernah gituu. HAHAHA

  27. Reply

    Nunik Utami

    May 5, 2020

    Penasaran sama Hat Yai. Jadi ini dekat sama Penang, ya? Ok, dicatat, kapan2 kalo ke Penang, mampir ke sini juga

  28. Reply

    duniamasak

    June 25, 2020

    penasaran pengen coba street food di Hat Yai πŸ˜€ semoga nanti diberi kesempatan untuk berkunjung kesana yaaa

LEAVE A COMMENT

Lisa Fransisca
Indonesia

Bercerita melalui rangkaian kata, coretan gambar, dan foto-foto yang diabadikannya saat melakukan perjalanan.

Archives
Part of
Kubbu Network
Blogger Perempuan
Instagram
Instagram did not return a 200.

Follow Me

Drawing Gallery
Instagram did not return a 200.

Follow Me