Culture Health

Sekolah Ibu, Apakah Sudah Ramah Gender?

on
March 8, 2020

Apa kalian pernah mendengar tentang “Sekolah Ibu”? Apa yang terbersit dalam benak ketika mendengar hal ini?

Sekolah Ibu dibesut oleh Yane Ardian. Beliau ialah Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Kota Bogor. Sekolah ini resmi dibuka bulan Juli 2018. Karena sukses, Hengky Kurniawan selaku Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat berniat mengikuti jejaknya.

Sekolah Ibu diharapkan dapat menekan angka perceraian. Begitu unggahan beliau di media sosial miliknya. Pernyataan tersebut tentu menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Terutama kaum ibu. Banyak dari mereka merasa disudutkan. Merasa seolah-olah merekalah biang dari persoalan rumah tangga dan perceraian.

Kok bisa mendirikan Sekolah Ibu untuk menekan angka perceraian? Bagaimana jika penyebab perceraiannya karena kekerasan? Masa iya mau dipertahankan? Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah mendapat kekerasan, mental remuk redam, masih disalahkan juga? Duh!

Sekolah Ibu, Bagaimana Menyikapinya?
Foto: Dok. Pemkot Bogor

Peran Ayah dan Ibu Setara dalam Mendidik Anak

Pandangan dalam masyarakat seringkali diskriminatif. Ibu seharusnya berada di rumah mengurus anak dan dapur. Sedangkan ayah bertugas mencari nafkah. Ibu seharusnya lemah lembut. Ayah seharusnya tegas dan rasional. Masyarakat menganggap ini sebagai kodrat. Padahal pandangan ini keliru.

Ayah dan ibu mengacu kepada jenis kelamin. Atau dikenal juga dengan seks. Hal ini bersifat biologis. Dikarenakan adanya perbedaan alat reproduksi antara laki-laki dan perempuan. Ini yang disebut dengan kodrat.

Sedangkan peran ayah dan ibu mengacu kepada gender. Gender berkaitan dengan psikologis, sosiologis, dan budaya. Ia bersifat likuid. Mengapa demikian? Karena maskulinitas dan feminitas dapat berubah. Juga, dapat dipersilang dan dipertukarkan. Sederhananya, ia bukanlah kodrat. Melainkan dibentuk dan dikembangkan sendiri oleh masyarakat.

Jadi, ayah dan ibu memiliki tanggung jawab yang setara dalam pernikahan. Mereka sama-sama memiliki hak dan kewajiban untuk membina rumah tangga. Termasuk mengurus anak. Ayah dan ibu bisa menjadi tegas, lemah lembut, emosional, dan rasional. Juga, sama-sama mengerjakan pekerjaan rumah dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tergantung bagaimana kesepakatan bersama. Bukankah dengan demikian, tidak ada satupun pihak yang merasa terbebani?

Konstruksi Sosial Membuat Peran Ayah Semakin Pudar

Konstruksi sosial menyatakan ayah seharusnya mencari nafkah. Sehingga mengurus rumah tangga dan mengasuh anak diserahkan sepenuhnya kepada Ibu. Padahal, ketidakhadiran ayah dalam proses tumbuh kembang anak dapat memicu banyak hal.

Dilansir dari situs fatherhood, berikut dampak kurangnya peran ayah dalam proses tumbuh kembang anak:

  1. Kemiskinan naik 4 kali lipat
  2. Kematian bayi naik 2 kali lipat
  3. Kehamilan di luar menikah saat remaja naik 7 kali lipat
  4. Menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual naik 9 kali lipat
  5. Obesitas naik 2 kali lipat
  6. Angka putus sekolah naik 9kali lipat
  7. Konsumsi alkohol dan obat terlarang naik 10 kali lipat
  8. Bunuh diri naik 2 kali lipat
  9. Perilaku agresif dan kekerasan naik 11 kali lipat
  10. Dipenjara karena berbuat kriminal naik 20 kali lipat

Jika hal tersebut terjadi, siapa yang cenderung disalahkan? Tentu ibu. Karena ayah tidak terlibat dalam proses pengasuhan anak. Ayah menganggap tugasnya hanya untuk mencari nafkah. Nah, hal ini juga bisa menyebabkan perceraian.

Sekolah Ibu, Apakah Sudah Ramah Gender?

Sumber: media online

Jadi, mengapa hanya ada Sekolah Ibu? Bukan Sekolah Ayah? Mengapa ibu seolah-olah disalahkan ketika perceraian terjadi dalam sebuah rumah tangga? Alih-alih menjadi media ramah gender, media online, cetak, maupun televisi seringkali menyampaikan berita dengan cara yang diskriminatif. Seperti yang tertera di atas.

Menurut saya, Sekolah Ibu tidak seharusnya bertujuan menekan angka perceraian. Karena faktor penyebab perceraian ada banyak dan kompleks. Sekolah Ibu seharusnya bertujuan mengedukasi ibu agar lebih cerdas. Juga, bisa berpikir kritis dan berani menyampaikan suaranya. Karena tidak mengakarnya ramah gender dalam masyarakat, ada banyak ibu di luar sana masih ragu untuk bersuara.

Jika ingin menekan angka perceraian, ada baiknya ayah dan ibu sama-sama diedukasi. Diberikan pemahaman seks dan sadar gender. Agar mereka mengerti bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara dalam hubungan rumah tangga.

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT

Lisa Fransisca
Indonesia

Bercerita melalui rangkaian kata, coretan gambar, dan foto-foto yang diabadikannya saat melakukan perjalanan.

Archives
Part of
Kubbu Network
Blogger Perempuan
Instagram
Instagram did not return a 200.

Follow Me

Drawing Gallery
Instagram did not return a 200.

Follow Me