Hiking Travel

Perjalanan Penuh Drama Menuju Ujung Timur Pulau Jawa

on
November 29, 2016

Processed with VSCOcam

Dua tahun lalu, untuk pertama kalinya aku mencoba ikut open trip dengan harapan bisa bersantai tanpa perlu bersusah payah memikirkan transportasi dan akomodasi menuju Menjangan, Ijen, dan Baluran.

Perjalanan ini membawaku bertemu dengan 11 teman baru di Stasiun Gubeng, Surabaya. Tour Organizer kami yang bernama Gepenk, berjanji akan menjemput pukul 02:30, namun hingga pukul 05:00, ia tak kunjung tiba.

Terbersit perasaan resah, bahkan pikiran buruk mengenai penipuan mulai menghantui pikiran kami. Namun, kami terus berusaha menghubungi Gepenk hingga akhirnya pukul 07:00, kami menyerah untuk berharap. Kami menemukan fakta bahwa kami bukan korban pertama penipuan Gepenk, setelah melakukan pencarian data lewat google.

Waktu telah banyak terbuang. Begitu juga dengan uang kami yang telah dibawa pergi. Kesal, sudah pasti. Namun, tak mungkin untuk kembali ke Jakarta dan menyiakan-nyiakan cuti yang sudah susah payah kami upayakan, bukan?

Setelah berdiskusi panjang, akhirnya kami memutuskan tetap melanjutkan perjalanan sesuai rencana. Menjangan, Ijen, dan Baluran, here we come!

Setelah mencoba menghubungi berbagai nomor dan negosiasi harga, akhirnya kami berangkat ke Banyuwangi dengan menggunakan elf. Perjalanan penuh dengan drama, mulai dari mengganti rem elf karena kurang pakem, mengganti jok, hingga diberhentikan polisi dan harus membayar sejumlah uang agar diperbolehkan lewat.

Perjalanan menuju Banyuwangi ternyata cukup makan waktu. Kami tiba di Kawah Ijen kurang lebih pukul 23:00. Suhu udara yang sangat dingin, membuat kami ingin bergelut di mobil saja rasanya. Namun mengingat perjuangan menuju tempat ini, kami harus tetap bersemangat.

Setelah mengisi perut agar kuat menanjak Gunung Ijen, kami memulai perjalanan. Waktu menunjukkan pukul 01:00. Banyak sekali orang yang mendaki malam itu. Mungkin alasan mereka sama seperti kami, ingin melihat fenomena blue fire secara langsung.

Dalam perjalanan, salah satu teman kami, Renny, merasa mual. Tak lama ia pun muntah dan wajahnya terlihat pucat. Beberapa dari kami memutuskan untuk menemani hingga kondisinya membaik. Kami bahkan sudah siap jika harus kembali ke basecamp apabila ia tak kuat melakukan perjalanan.

Namun, beruntung hal itu tak harus terjadi. Saat akhirnya kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan, ia terlihat bugar. The power of narsis! Iya, Renny kembali bersemangat karena ingat bahwa ia harus punya stok foto liburan untuk diupload di instagram dan path miliknya.

Setelah tiba di Puncak Ijen, kami mencari keberadaan guide kami yang bahkan tak menuntun perjalanan kami sedari awal. Ia membiarkan kami berjalan bersama dengan kelompok lain, kemudian memilih mendampingi wisatawan mancanegara yang juga melakukan pendakian malam itu.

Tetapi, pencarian kami tak berbuah hasil. Kami tak menemukan guide kami. Lagi-lagi kami merasa tertipu.

Tak lama, seorang penambang belerang menghampiri kami. Ia menawarkan jasa untuk menuntun kami turun ke Kawah Ijen. Setelah mempertimbangkan untuk tidak membayar penuh jasa guide yang telah meninggalkan kami, akhirnya kami putuskan untuk menyewa jasa bapak penambang belerang untuk turun ke kawah.

Ia menuntun kami dengan sangat sabar. Kondisi yang gelap serta trek menurun yang terjal dan didominasi bebatuan menuntut kami untuk lebih berhati-hati. Namun berkat tuntunan bapak penambang belerang, kami dapat tiba di kawah dengan kondisi baik-baik saja.

94f7cd85-a194-4701-b6ac-1c5d192c185c

Blue Fire; Credits to Ricky @mamedun

Tepat setelah matahari muncul di peraduan, blue fire sirna. Berganti menjadi keindahan kawah berwarna hijau tosca yang begitu menawan.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Sekitar pukul 08:00, kami memutuskan untuk turun kembali ke Basecamp Paltuding. Tak lupa momen perjalanan ini kami abadikan dalam kamera.

img-20140816-wa0011

dsc_0833

Permisi, jadi artis di blog sendiri nggak apa-apa kan 😛

Setiba di basecamp, kami mencari guide kami dan kembali bernegosiasi mengenai harga. Bagaimanapun, kami tidak berterima telah dibiarkan berjalan sendiri. Akhirnya sepakat bahwa beliau mendapatkan bayaran setengah harga.

Karena mengejar untuk menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk, kami segera berangkat menuju Pelabuhan Ketapang. Namun apalah daya, kami tiba di Pulau Menjangan sekitar pukul 14:30. Setelah membeli tiket masuk dan bernegosiasi mengenai harga sewa kapal, kami segera mencari tempat penyewaan alat snorkeling, kemudian bersiap-siap menuju kapal.

dsc_0886

Pelabuhan Gilimanuk

Di sini, kami diberhentikan oleh petugas setempat. Mereka berkata bahwa jam kunjungan hanya sampai pukul 15:00. Bahkan, penjaga pintu masuk pun sudah tak ada. Kami bingung, petugas yang menjual tiket masuk pada kami juga sudah dalam perjalanan pulang menuju pulau seberang. Ia bahkan tak memberitahu mengenai jam kunjungan pada kami.

Ketika semua galau memikirkan apa yang sebaiknya kami lakukan, tiba-tiba saja petugas memperbolehkan kami melakukan snorkeling atau diving hingga pukul 16:30. Tentu saja kami heran. Dan saat menuju spot snorkeling, Ricky bercerita kalau petugas tersebut minta uang rokok. Duh, perjalanan yang benar-benar makan banyak uang untuk sogokan yah.

img-20140821-wa0005

dsc_0890

Pura Segara Giri Dharma Kencana

f05c7b07-70a1-4a35-9bac-9ae74a4ff2a2-1

26d9ee70-ee14-4bf3-9097-6d9347044f50

a0d6dcb5-fc01-452a-919d-98be3ce13307

Clown Fish; Credits to Ricky @mamedun

Setelah menikmati keindahan bawah laut Menjangan dalam waktu yang sangat singkat, kami bebersih diri, kemudian lanjut menikmati Ayam Betutu yang merupakan makanan khas Bali, dekat Pelabuhan Gilimanuk.

Usai menyantap makan malam, kami bergegas menuju pelabuhan untuk kembali menyeberang ke Pelabuhan Ketapang. Kemudian, melanjutkan perjalanan dan mencari penginapan di sekitar Taman Nasional Baluran.

Pagi menjelang. Kami bangun sedari subuh untuk berburu sunrise di Pantai Bama. Manusia berencana, namun Tuhanlah yang bertindak. Ternyata suasana pagi itu cukup mendung. Kami sudah pasrah apabila tak dapat menikmati sunrise Pantai Bama.

Tapi seakan menepis kekalutan kami, tiba-tiba mentari muncul ke peraduan. Menyapa kami malu di balik rona jingganya. Bahagia rasanya! Perjuangan bangun pagi kami tak sia-sia.

dsc_0969

Karena bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, kami melaksanakan upacara bersama dengan para wisatawan dan pengurus taman nasional. Hal ini guna mengenang jasa para pahlawan yang rela mati di medan perang demi kemerdekaan Bangsa Indonesia.

img-20140915-wa0013

Sunrise Pantai Bama; sesaat sebelum Upacara Kemerdekaan

Setelah upacara selesai, kami melanjutkan perjalanan mengelilingi Taman Nasional Baluran dan menyaksikan berbagai jenis satwa liar yang hidup di sana. Melihat wildlife secara langsung di habitatnya merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagiku.

dsc_1080

View Savana Bekol

img-20140915-wa0009

 


Dokumentasi : Ricky, Ali, aku

TAGS
RELATED POSTS
0 Comments
  1. Reply

    Maya Nirmala Sari

    December 3, 2016

    Ya ampun kalisa drama beneerrr… Semoga banyak hikmah dan akhirnya menjadi cerita yang menarik untuk dikenang yaa

    • Reply

      memoryinthesky

      December 4, 2016

      iya kak mae, ini unforgettable moment banget :’D

LEAVE A COMMENT

Lisa Fransisca
Indonesia

Halo! Saya Lisa. Di blog ini saya akan bercerita. Baik melalui rangkaian kata, coretan gambar, maupun foto-foto yang diabadikan saat melakukan perjalanan.

Archives
Part of
Kubbu Network
Blogger Perempuan