Aku Bukan Bonekamu, Yah

Media: Cat air pada kertas

“Hah hah hah hah…”

Aku terbangun. Napasku tersengal-sengal. Ada apa? Rasanya bagai dilanda mimpi buruk.

“Hah hah hah hah…”

Napasku masih tersengal-sengal. Kenapa? Kenapa rasanya tak mau berhenti? Aku menyeka peluh yang bercucuran membasahi pelipis. Kutarik napas dalam dan kuhembuskan perlahan. Berusaha membuat diri menjadi lebih tenang.

Continue reading

Perjalanan Menuju Golden Triangle

Golden Triangle

Golden Triangle atau segitiga emas merupakan daerah rawan konflik perbatasan 3 negara yang dipisahkan oleh Sungai Mekong. Ketiga negara tersebut ialah Thailand bagian utara, Laos, dan Myanmar sebagai negara pemasok opium terbesar di Asia Tenggara dan lokasi perdagangan narkotika. Kawasan Golden Triangle dibingkai oleh pegunungan bersuhu dingin. Oleh sebab itulah, cocok dijadikan ladang poppy, bunga yang menghasilkan getah bernama opium.

Kenapa disebut segitiga emas? Konon, hal ini dikarenakan kekayaan kawasan ini berasal dari emas hitam atau opium. Dalam perdagangannya, emas seringkali dijadikan alat tukar menggantikan uang.

Pada masa itu, opium digunakan sebagai bahan baku pembuatan narkotika dan obat dalam bidang kedokteran.

Continue reading

4 Cara Sederhana Mengurangi Sampah Plastik

Kususuri setapak demi setapak bibir pantai sore ini. Sinar matahari mulai beranjak turun, bosan mengecupi kulitku yang semakin memerah. Sesekali, kubenamkan kaki dalam pasir yang terasa hangat. Kepiting-kepiting kecil berlarian, menjauh dari telapak kakiku. Jauh ke tengah lautan, aku melayangkan pandang. Menikmati suguhan birunya laut yang memanjakan mata.

Tiba-tiba, sebuah benda tersangkut di jemari kaki. Pandanganku beralih. Dari birunya laut menjadi sebuah benda kecil berwarna transparan.

“Wah, sampah plastik datang dari ombak.” Aku mengernyitkan dahi, menatap benda yang terapung-apung di kaki.

Continue reading

Bangkok, Menjelajahi Chatuchak Weekend Market

Ke Bangkok tanpa menjelajahi Chatuchak Weekend Market rasanya bagaikan ciki tanpa micin, Mickey Mouse tanpa Minnie,  aku tanpa kamu. Tak lengkap. Yah, setidaknya begitulah kata-kata yang sering kudengar dari orang-orang yang sudah pernah ke Bangkok. Penasaran dengan makanannya yang enak dan barang-barang unik apa saja yang dijual di sana, aku dan Merin memutuskan untuk menjelajahi tempat ini saat singgah di Bangkok.

***

Kalian percaya enggak sih dengan kalimat yang selalu bilang bahwa ucapan adalah doa? Hal ini terjadi padaku. Setahun yang lalu, aku pernah iseng berucap kalau sudah menginjakkan kaki di Flores, aku ingin menginjakkan kaki di negara lain. Aku juga pernah berkata ingin ke Thailand, tapi enggak mau menetap di Bangkok karena sudah terlalu ramai dan mainstream. Dan voilaaa, terjadilah hal itu! Thailand benar-benar menjadi negara pertama yang kujelajahi semenjak aku mengantongi paspor setahun yang lalu.

Namanya sebuah perjalanan, tentu ada banyak cerita menarik di dalamnya. Mulai dari hampir gagal karena aku harus fokus menjaga kondisi kesehatan, harga tiket pesawat yang semakin melambung tinggi, temanku Hayati yang terserang tifus, Merin yang terancam tidak mendapat persetujuan untuk cuti, dan masih banyak lagi. Ini baru persiapan, tapi kok sudah banyak sekali aral melintang? Aaarghh! Padahal perjalanan ini dirancang sekaligus untuk merayakan ulang tahunku dan Hayati yang hanya berbeda satu hari di bulan Maret. Hiks.

Continue reading

Karin dan Deteksi Dini Tumor Payudara

Kita seringkali abai.

Padahal, deteksi dini tumor payudara merupakan hal yang sangat penting.

Yayasan Kanker Indonesia - Deteksi dini tumor payudara

“Rara…, gue diduga kena tumor ganas payudara….”

Aku tersentak. Tak ada lagi kata-kata yang terucap melalui pengeras suara gawaiku. Suara itu menjelma sunyi. Hanya sesekali isak tangis terdengar. Aku masih merekatkan telinga pada gawai yang kugenggam, mendengarkan hening di seberang sana sembari menyiapkan tas kecilku, hendak menyusulnya.

Karin, ia duduk terkulai di bangku koridor rumah sakit. Seorang diri. Aku mendekatinya perlahan, kemudian duduk di sampingnya. Namun, ia tak menoleh. Tetap saja duduk tertunduk. Rambutnya yang terurai menutupi wajahnya yang basah dengan derai air mata. Karin, ia yang biasanya selalu tertawa, kini menangis pilu di hadapanku.

Continue reading

Labuan Bajo, Menyusuri Goa Batu Cermin Hingga Mengejar Sunset di Bukit Sylvia

Perjalanan selalu memiliki banyak cerita.

Baik yang menyenangkan maupun menegangkan, ada suka dan duka.

Adapula yang mengalami hal-hal di luar dugaan atau bahkan musibah.

Tak ada yang tahu, karena sematang apapun rencana perjalanan kita buat, semestalah yang akan menjadi penentu pada akhirnya.

Labuan Bajo, Menyusuri Goa Batu Cermin Hingga Mengejar Sunset di Bukit Silvia 10

“Lho mana yang lain?” Aku yang baru saja tiba di rumah Ibu Nani, tempat teman-temanku menginap di Labuan Bajo, bertanya pada Bang Bye yang terlihat sedang beristirahat di teras rumah.

“Udah jalan barusan. Habis darimana lo?” Ia berbalik bertanya.

Continue reading

Menyusuri Keindahan Goa Gong Pacitan

Selain memiliki pantai yang indah dan eksotis, Pacitan, kota yang terkenal dengan batu akik ini memiliki sebuah objek wisata yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, yaitu Goa Gong. Bersama dengan teman-teman dari Komunitas Backpacker Jakarta, aku mengunjungi goa ini sebagai tempat persinggahan berikutnya setelah asyik menikmati malam yang sunyi dan indah di Pantai Banyutibo.

DCIM101GOPROGOPR5837.
Continue reading

Goa Kristal, Oase di Tengah Teriknya Kota Kupang

“Itu di depan ada plang Goa Kristal!” Merin, teman seperjalananku yang duduk di samping kemudi memberitahukan kepada Mas Dandiko yang sedang mengemudi. Melihat plang tersebut, Mas Dandiko segera memarkirkan mobil tepat di bawahnya. Tak ada lahan parkir di sini. Hanya ada tanah kosong yang bisa memuat 3 buah mobil. Karena khawatir, Mas Dandiko memohon izin kepada seorang bapak yang merupakan warga setempat, untuk menitipkan mobil sementara waktu. Beruntung dengan ramahnya, beliau mengizinkan. Terima kasih, Pak!

Goa Kristal Oase di Tengah Teriknya Kota Kupang 11
Continue reading

Salib Kasih, Wisata Rohani dan Sejarah di Tarutung

“Ya Tuhan, hidup atau mati biarlah aku berada di tengah-tengah Bangsa Batak ini untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu” –Dr. IL. Nommensen 11 November 1863-

DCIM101GOPROGOPR5082.

Memasuki kompleks Salib Kasih, sebuah patung yang kemudian diketahui dibangun untuk menghormati jasa Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, seorang misionaris asal Jerman yang menyebarkan agama Kristen Protestan di Tanah Batak, menyambut kedatanganku. Tempat ini terletak di Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, yang dibangun pada bulan Oktober 1993.

Continue reading