Hiking Tektok Team

Merbabu dan Tektok Team Gesrek

on
April 22, 2017

This image has an empty alt attribute; its file name is lisafrc.com-Merbabu-dan-Tektok-Team-Gesrek-1-1024x768.jpg

 

Our family is a circle of strength and love. With every birth and every union the circle of love grows. Every crisis faced together make the circle stronger.”

-Unknown-

Katanya, seindah apapun gunungnya, kalau teman 1 tim nggak enak, perjalanan juga jadi nggak menyenangkan. Gimana menurut kalian? Kalau aku sih sangat setuju. Buktinya aku pernah naik gunung yang sama, tapi rasanya berbeda. Lebih menyenangkan. Apalagi kali kedua mendaki gunung ini, aku bersama dengan keluarga keduaku. Tektok Team.

***

“Wah kita salah jalur nih, harusnya jalur yang tadi. Yang ini buntu.” Kata Bang Maman, team leader pendakian tektok Merbabu yang biasa kami panggil Bapak TL, sambil menyeringai dan menggaruk kepalanya.

“Lah? Hahaha. Ya udah, balik lagi dah. Eh tapi, foto dulu yuk.” Sahut salah satu dari kami.

Beginilah cerita pendakian tektokku dengan Tektok Team Gesrek dimulai. Kami menyebutnya demikian karena pendakian ini beranggotakan 8 laki-laki “gesrek” dan 4 perempuan yang terlalu banyak tertawa hingga rahang hampir lepas karena kekonyolan kedelapan laki-laki ini. Buktinya sudah tersasarpun, kami tetap tertawa. Tak lantas ngedumel dalam hati dan menyalahkan team leader kami. Bukankah seharusnya kita bersyukur punya teman yang mau repot-repot menjadi team leader dalam sebuah pendakian? Oh ralat, bukan hanya team leader, tapi juga tim medis dan sweeper. Sungguh beruntungnya kami!

Kami kemudian memutar balik ke jalur yang benar, lalu melanjutkan perjalanan. Jalur yang dipilih untuk pendakian Gunung Merbabu adalah lintas Suwanting – Selo, karena kami berencana untuk tektok 2M (Merbabu Merapi).

Sebelum pendakian dimulai, kami melakukan briefing bersama petugas Basecamp Suwanting yang memberikan wejangan mengenai hal-hal yang harus diperhatikan selama pendakian. Terutama karena kami akan melakukan pendakian dengan cara tektok, mendaki hingga puncak, kemudian segera turun kembali ke basecamp tanpa menginap.

Briefing dulu yuk 😀

Usai menyimak penjelasan petugas dengan saksama, perjalanan pun dimulai. Ladang-ladang milik warga Desa Suwanting yang terletak di Magelang ini, menjadi titik awal pendakian kami.

Basecamp Suwanting

 

Di antara ladang milik warga Desa Suwanting

Jalur awal pendakian belum begitu menanjak, cukup lumayan untuk pemanasan. Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi sebelum Pos 1 memberikan kesejukan tersendiri, meskipun matahari sedang bersinar dengan terik.

Melewati Pos 1, jalur semakin berat. Perjalanan terus dilanjutkan meski terkadang lelah dan dahaga menuntut kami untuk rihat sejenak. Ternyata benar informasi yang kami dengar, jalur pendakian Suwanting sungguh menguras tenaga. Duh, jalur ini kok isinya tanjakan semua ya? Kok nggak ada bonusnya ya? Hiks.

Lembah Ngrijan

 

Trek selepas Lembah Ngrijan

 

Lembah Mitoh

 

Hutan Manding (hutan mati)

 

Pos Air

Dalam perjalanan menuju Pos 3, kami berhenti sejenak di Sendang Dampo Awang yang merupakan sumber air di jalur Suwanting. Kami mengisi perbekalan air, kemudian kembali memacu langkah-langkah kecil kami menapaki jalur yang semakin menanjak.

Setelah berjalan kurang lebih 6 jam dengan jalur yang didominasi oleh hutan pinus, hutan mati, serta vegetasi rimbun dan menanjak, kami tertegun melihat pemandangan yang tersaji di depan mata kami. Gunung Merapi! Ia berdiri begitu gagah, seolah menyapa kami di bawah rona jingga cakrawala.

Hari semakin gelap. Angin yang berhembus dengan kencang membuat kami bergidik. Kami berhenti sebentar untuk menyiapkan jaket windproof, sarung tangan, dan headlamp sebagai penerang jalan. Selain itu, kami harus mendiskusikan satu hal penting, yaitu tetap melanjutkan misi tektok 2M sesuai dengan tujuan awal atau terpaksa menggugurkan keinginan tektok Merapi dikarenakan waktu yang sangat terbatas.

Perhitungan waktu yang kami gunakan untuk tektok 2M kali ini meleset cukup jauh. Oh, bahkan tak bisa dikatakan meleset karena kami tidak melakukan riset berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendaki melalui jalur Suwanting. Pendakian kali ini hanya berbekal itinerary tektok 2M setahun sebelumnya melalui lintas jalur Wekas – Selo. Tapi ternyata, pendakian melalui jalur Suwanting dua kali lebih panjang dan lebih menantang. Jelas saja jika membutuhkan waktu pendakian yang lebih lama.

Belum lagi, kereta kami akan bertolak dari Jogja menuju Jakarta jam 2 siang. Sedangkan kini waktu menunjukkan tepat pukul 8 malam. Ada tiga puncak Merbabu yang belum kami raih, ditambah perkiraan waktu untuk turun ke Basecamp Selo sekitar 4-6 jam. Hei, bahkan perjalanan dari Basecamp Selo, Boyolali, menuju Jogja juga membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Aaargh, bagaimana ini?!

“Jadi, gimana nih guys?” Bang Maman membuka suara.

“Kemungkinan tektok 2M kita berubah haluan.” Lanjutnya sambil terkekeh.

“Hah? Berubah haluan kemana, Bang?” tanya kami.

“Tetep 2M kok. Merbabu Malioboro.”

Mendengar jawabannya, spontan kami tertawa mengingat semua kejadian konyol di gunung ini. Ya ampuuun, kok bisa-bisanya mendaki via Suwanting berbekal itinerary via Wekas? Mana tadi tersasar di awal pendakian. Ditambah, tektok 2M berubah haluan menjadi Merbabu Malioboro.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan setelah semua sepakat untuk melihat berapa lama waktu yang tersisa setelah tiba di Basecamp Selo. Jika cukup, ada kemungkinan kami melanjutkan tektok Merapi. Namun jika tidak cukup, ya pasrah saja. Hahaha.

Sekitar 1 jam kemudian, kami tiba di Puncak Suwanting. Peluh selama menapaki jalur Merbabu rasanya sedikit terbayar saat berada di sini.

Puncak Suwanting

Usai mengabadikan beberapa foto, kami kembali melangkahkan kaki menuju Puncak Trianggulasi. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kami mendengar sebuah suara. Kami terdiam. Tubuh kami menegang dan jantung pun berdegup begitu cepat, seakan memburu kami.

Suara apa itu?

Langkah kaki terasa semakin berat. Namun, kami terus memaksakan diri untuk berjalan lebih cepat.

Lagi, suara itu terdengar. Begitu jelas. Ia seakan mengikuti langkah-langkah kecil kami. Tenggorokan kami seakan tercekat. Beberapa kali kami melirik ke arah rerumputan yang berada di sisi kiri, takut jika si pemilik suara tiba-tiba memperlihatkan wujudnya.

Kami terus berjalan. Setelah dirasa agak jauh, barulah salah satu dari kami membuka suara.

“Denger nggak tadi?” Karey setengah berbisik pada Mahmud.

“Iya, denger. Kayak suara… macan?” jawab Mahmud hati-hati sambil menelan ludah yang terasa pahit karena berselimut panik.

Tak ada yang berniat meneruskan pembicaraan ini, semua kembali hening. Pikiran kami berkecamuk. Berbagai tanya menyeruak dalam kepala. Suara apa gerangan yang mengikuti kami? Apakah benar itu adalah macan? Ataukah… makhluk tak kasat mata?

Ah, sial! Perasaan kami mulai tak tenang. Lututpun masih gemetar. Namun bagaimanapun caranya, kami harus berusaha melenyapkan rasa takut ini. Harus!

Setelah 1 jam berjalan, kami tiba di Puncak Trianggulasi. Kami sedikit lega setiba di tempat ini, karena tak ada lagi suara yang mengusik.

Puncak Trianggulasi

Dari Puncak Trianggulasi, kami kembali menapaki langkah di jalur setapak Merbabu. Selang 15 menit kemudian, tibalah kami di Puncak Kenteng Songo. Yeaaay! Bangga rasanya bisa menjejakkan kaki di 3 puncak Gunung Merbabu. Yah meskipun puncak bukanlah tujuan utama, melainkan kembali ke rumah dengan selamat.

Puncak Kenteng Songo, puncak tertinggi Merbabu (3,142 mdpl)

Angin berhembus semakin kencang. Sembari menunggu teman lain yang berfoto, kami berkumpul. Berdiri rapat membentuk sebuah lingkaran kecil agar mudah berbagi kehangatan. Dinginnya malam membuat sarung tangan tebal dan jaket windproof yang kami kenakan seakan mati fungsi. Lutut kami bergetar hebat dan bibir kami memucat. Asap putih yang keluar dari mulut kami tiup-tiupkan ke kedua tangan agar terasa hangat. Ah, tapi tetap saja terasa dingin.

Yang butuh kehangatan, mari merapaaat 😛

“Duh, gue gede banget ya. Kalian udah kayak anak gue aja. Gue cium nih palanya satu-satu.” Amen memecah hening. Kami semua yang menggigil hebat sontak tertawa mendengar banyolan si pemilik tubuh paling besar di antara kami semua.

Kemudian, semua mata memandang penuh harap ke arah Amen. Karena memiliki tubuh besar, ia lantas kami jadikan tameng untuk menghalau terpaan angin malam itu. Beruntung, Amen hanya tertawa pasrah sambil mendekap kami semua yang berdiri rapat dalam lingkaran. Persis seperti adegan Baymax saat memeluk Hiro, hahaha.

Dingin yang begitu menusuk menuntut kami untuk segera melanjutkan perjalanan turun ke Basecamp Selo. Jalur ini luar biasa kemiringannya! Kami turun dengan sangat hati-hati karena trek begitu landai.

“Injek rumput deh, biar nggak kepeleset.” Adit memberi tips pada Karey dan aku agar tak terjungkal menuruni jalur. And yeah, it works! Tak sekalipun kami terjungkal, ya meski sesekali terpeleset sih. Hehe.

Usai melewati Jemblongan, kami tiba di Sabana 2. Tenda berwarna-warni terlihat rapi menghiasi jalur ini. Tiba-tiba kami teringat bahwa teman kami, Uda Faiz, mendirikan tenda di sini. Ia mengatakannya ketika kami bertemu di Stasiun Senen. Tujuan kami memang sama, Gunung Merbabu. Hanya saja Uda Faiz lebih memilih untuk kemping, sedangkan kami memilih untuk tektok.

“Uda Faiz! Uda Faiiizzz!” Yusen meneriakkan nama Uda Faiz, dengan harapan bisa mendapatkan semangkuk mie instan dan segelas kopi hangat. Alief dan Ijal tak mau ketinggalan. Mereka ikut meneriakkan nama Uda Faiz. Kami yang berjalan di depan, spontan tertawa melihat tingkah mereka.

Di tengah Sabana 2, ada sebuah tanah lapang yang akhirnya kami jadikan tempat untuk merebahkan tubuh. Flysheet digelar. Kemudian, masing-masing dari kami segera meringkuk dalam survive lite. Mencoba memejamkan mata dan membunuh hawa dingin yang menyerang. Kami tertidur dalam buaian langit malam yang berselimut bintang. Sedangkan Yusen, Alief, dan Ijal yang baru saja tiba karena menghampiri tenda Uda Faiz, memilih duduk menghadap api unggun sambil bersenda gurau dengan Bang Maman yang masih terjaga.

Meringkuk dalam survive lite 😀

Kami dipaksa untuk kembali membuka mata setelah beristirahat kurang lebih 1 jam. Kuseka kedua mataku, kemudian kupandang jam yang bertengger di pergelangan tangan kiriku. Ah, masih jam 12 dini hari. Survive lite kutarik kembali dan aku segera meringkuk di dalamnya. Tapi kemudian, Karet mengguncang-guncang tubuhku agar segera bangun karena perjalanan akan dilanjutkan kembali.

Dengan gontai aku berjalan menuju tepian flysheet sambil melipat kembali survive lite yang baru saja aku gunakan. Ada Yusen di sana. Tidur meringkuk, mendekap rapat kedua lututnya tanpa balutan survive lite.

Tiba-tiba saja, ia berdiri dan menggigil begitu hebat. Giginya bergemelutuk tak terkendali dan matanya terpejam erat menahan gigil di sekujur tubuh.

“Yusen… Yusen…” kami panggil namanya.

Kami segera menghampiri dan memeluknya erat sembari mengguncang-guncangkan tubuhnya. Sarung tangannya segera kami tanggalkan, lalu kami genggam dan usap-usap setiap jemarinya agar kehangatan tubuh kami cepat mengalir ke tubuhnya.

“Yusen… Yusen…” kami terus memanggil namanya. Namun, Yusen tetap diam. Tubuh dinginnya masih gemetar dengan hebat.

Kami tetap berusaha berbagi kehangatan tubuh dengan Yusen. Mendekapnya dan mengusap-usap tangannya. Yusen, lekas buka matamu! Cepat ngelawak lagi, kami mau dengar suara cemprengmu! Yusen…

“Ini pada kenapa sih? Brrr brrr… Dingiiiin.” Tiba-tiba saja Yusen membuka suara.

Kami saling bertatapan satu sama lain, kemudian menoleh ke arahnya.

“Anjriiitttt! Sueeeekkk! Kita beneran panik tau! Lo nggak apa-apa kan?” tanya kami.

Yusen kemudian menyengir lebar, mengisyaratkan dirinya baik-baik saja. Kami tertawa lega. Ingin sekali menoyor kepalanya karena telah membuat kami begitu khawatir akan kondisinya. Syukurlah, tim medis kebanggaan kami ini baik-baik saja.

Semua sudah selesai merapikan survive lite masing-masing, flysheet pun telah dilipat. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini tanpa istirahat.

Jam setengah enam pagi, kami tiba di Basecamp Selo. Waktu yang tersisa tak begitu banyak. Karena itu, kami tak memaksakan diri untuk melakukan tektok Merapi.

Bangga pakai produk Indonesia. Swallow! 😛

Akhirnya, kami memilih menghabiskan waktu untuk sekadar menikmati sarapan nasi goreng hangat dan bercengkerama sembari melakukan “bully-bully sayang” ─sebutan momen bully yang merupakan wujud kasih sayang kepada teman satu tim─ di basecamp.

***

Dalam perjalanan kembali ke Jogja, salah seorang teman Karey memberi kabar bahwa Merapi sedang diterjang badai. Kami terkejut, dan tak lupa memanjatkan syukur pada Yang Maha Kuasa karena telah diberikan jalan yang terbaik.

Terima kasih untuk pendakian penuh canda tawa ini, Tektok Team Gesrek! Terima kasih, Merbabu!

 


Foto : dokumentasi Tektok Team

 

TAGS
RELATED POSTS
0 Comments
  1. Reply

    Johanes Anggoro

    April 22, 2017

    Njiiiir ngakak gue. Hahaha
    Emang bener temen seperjalanan itu emang ngaruh banget dalam suatu perjalanan. Kalo kocak2 kayak gini sih berkesan banget, bukan krn tempatnya tapi orang2nya juga. Ah petualangan yg seru! TFS 🙂

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 22, 2017

      iya mas, bener, jadi berkesan banget.
      btw, thanks sudah mampir 🙂

  2. Reply

    Fakhruddin

    April 23, 2017

    Jadi kangen sama Merbabu, terakhir ke sini jaman SMA duluuuuuu banget.

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 23, 2017

      merbabu memang ngangenin ya kaak, hehe

  3. Reply

    endang cippy

    April 23, 2017

    Lisa, doyan nanjak ya…hahaha kayak kenal dgn tim gesrek dan tektoknya 😄😆😁

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 23, 2017

      haha iyaa mindang, tim gesreknya kan banyak anak BPJ juga 😂

  4. Reply

    Lena Vi

    April 24, 2017

    Seruuu, jd kangen ketinggian nih 😃

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 24, 2017

      kapan2 nanjak bareng kuy, kak len 😀

  5. Reply

    Annisa

    April 24, 2017

    Syukurlah semua baik-baik aja, untung gak ke merapi. Keren ih kalian!!

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 24, 2017

      iyaa, bersyukur banget..
      thanks nisul udah mampir

  6. Reply

    www.blogivan.com

    April 27, 2017

    Kereen!
    Seneng banget bacanya.
    Jadi kebayang rasa bangga mencapai puncak, rasa hangat persahabatan yang mengalahkan dinginnya malam dan deg degan waktu mendengar ‘suara itu’.
    Terima kasih atas sharingnya, Lisa.

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 27, 2017

      makasih udah mampir ya, pak ivan!
      salam hangat dari tektok team haha

      • Reply

        www.blogivan.com

        April 27, 2017

        Sama-sama kak Lisa. Salam hangat juga dari saya untuk tektok team. : )

  7. Reply

    elsamartinalova

    April 28, 2017

    berasa serunyaaaa 😭😭😭 Andai sajaaaaa aku berani nanjak. huh

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 28, 2017

      makasih kak caca..
      ntar nanjak pelaminan aja kak, pasti berani *eh 🙊

      • Reply

        elsamartinalova

        April 28, 2017

        huahahaaa bisa aeeee tp bukti nya blm berani juga dek smpe skrg. wkwkwk

    • Reply

      Zen

      April 29, 2017

      Ayoo nanjak sama Abang Chaa

  8. Reply

    renoputri

    April 28, 2017

    Wah lisa, dengan ceritanya gw jd serasa hadir disana. Tokoh tokoh di ceritanya gw kenal semua. Jd gampang deh ngebayangin nya. Hehe. Walau ga ikutan tektok tapi bisa merasakan keseruannya, 😭

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 28, 2017

      haiii uni spesialis 3000 mdpl, yuk kapan2 tektokan bareng lagi 💪

  9. Reply

    Maria Anastasia Wardani

    April 28, 2017

    Wah seru banget! Ini berarti nggak bawa tenda ya? Ngeri juga ngebayangin nahan dingin malam di gunung tanpa tenda.

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 28, 2017

      kita pake survive lite kak, itu hampir 100% menahan panas di dalamnya, bahkan kalo yg ga breathable bisa sampe keringetan lho tidur di gunung, hehe. ditambah heattech apalagi.
      makasih kak udah mampir 😊

  10. Reply

    Hayati Ayatillah

    April 28, 2017

    Buat aku yg ga pernah nanjak.. ini aseli berasa banget seruuunyaaa ! 😃

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 28, 2017

      makasih sudah mampir, kak hayati 😊

      • Reply

        Hayati Ayatillah

        April 28, 2017

        Sama2.. sering2 dishare ya.. gapapa deh ak mah kebagian ceritanya juga 😃

  11. Reply

    thoriqalfatah

    April 28, 2017

    Merbabu udah berapa tahun silam, sampai lupa jalur nya, baca ini jadi pengen kesana

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 28, 2017

      wiiih ternyata bang MT suhu gunung 💪

  12. Reply

    Rizki Rakhmat Abdullah

    April 28, 2017

    ke merapi cuma pas gunung meletus aja smpe ke kawah.. itupun karena jadi relawan…

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 28, 2017

      keren euy jadi relawan!

  13. Reply

    Lanisyah

    April 28, 2017

    Iya bener.. perjalanan jd gaenak klo ngedumel.. susah seneng dinikmati 😁

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 29, 2017

      setuju kak lan, dinikmati hehe 😁

  14. Reply

    Tengku Mahesa Khalid

    April 29, 2017

    Wow, gw belum pernah tektok yg ketinggian 2000 ke atas. Pengen bgt ke merbabu

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 29, 2017

      ayoklah bang ke merbabu 💪

      • Reply

        Tengku Mahesa Khalid

        April 29, 2017

        Lg musim hujan ni. Parete gw rncana mw buka trip ke merbabu tp cuaca kyanya gini jd dinpending sementara

        • Reply

          Lisa Fransisca

          April 29, 2017

          iya bang, mending tunggu cuaca membaik..
          gunung ga lari kemana2 ini hehe, good luck 💪

  15. Reply

    Zen

    April 29, 2017

    Selalu ada cerita yang seru disetiap pendakian….
    Duhhhhh jadi kangen gunungkan jadinya 😞

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 29, 2017

      hiking memang ngangeniiin 😁

  16. Reply

    arlindya

    April 29, 2017

    Seru banget ceritanya dan tulisannya gak bosenin hehe. Baru kenal lisa di grup ini kirain cuma bisa ngakak haha ternyata tulisannya keren.

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 30, 2017

      makasih kak arlin
      btw, emang aku tukang ngakak ya? 😂

  17. Reply

    Ning

    April 30, 2017

    Lisaaa… Seru banget cerita naik gunungnya. Tuhan memang selalu menolong tanpa kita tau ya, untung gak jadi ke merapi.
    Ditunggu next tripnya lis, cerita kamu seruuuu!!!!

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 30, 2017

      makasih kak ning udah mampir 😁

  18. Reply

    lalaysf

    April 30, 2017

    Total waktu, 24 jam ya lis tektok merbabunya?

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 30, 2017

      18 jam, la

  19. Reply

    kartinismayanti

    April 30, 2017

    Seru banget ya pendakiannya mba lis. Aku bacanya tuh kayak lg baca novel dehh. Good 👍👍

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 30, 2017

      makasih kak kartini sudah mampir ☺

  20. Reply

    achi hartoyo

    April 30, 2017

    “bully-bully sayang” lol, lucu buat hastag trip ini :))

    • Reply

      Lisa Fransisca

      April 30, 2017

      LOL 😂

  21. Reply

    Lanisyah

    May 1, 2017

    Ini mba nya ama Lisa barengan toh.. tapi menceritakannya dengan cara yang berbeda namun bikin pengen deh rasain nanjak xixixi

    • Reply

      Lisa Fransisca

      May 1, 2017

      kak lani butuh aqua kah? hehe
      aku yo lisa 😂

  22. Reply

    Maya Nirmala Sari

    May 1, 2017

    Angkat topi buat Lisa.
    Mae ga pernah naik gunung. Selalu tertarik sama cerita perjalanan pendakian… Tapi dalam hati selalu berbisik, “ya ampun kok kuat yaa.. Ga capek ya..”
    Semoga sehat selalu.

    • Reply

      Lisa Fransisca

      May 1, 2017

      capek sih, tapi selalu terbayar kok sama pemandangan dan kebersamaan sama temen2 hehe
      makasih kak mae, sehat2 selalu juga biar makin eksis di dunia jurnalis 💪

  23. Reply

    Ndari

    May 1, 2017

    Bner bgt Lisa.. Kamanapun perginya, yang penting sama “siapa”? Apalagi naik gunung yg butuh team..
    Ehm..aku ad crita di merbabu kawan kami jatuh di jembatan setan.. Hemm.. Jd pinvin lanjutin draft nya 😂..
    Kerenzz Lisa n Team 👏👍👍

    • Reply

      Lisa Fransisca

      May 1, 2017

      makasih kak ndari 😁
      eh? kok bisa sampe jatoh?
      semangat ya kak lanjutinnya, aku mau baca 💪

  24. Reply

    taumyalif

    May 1, 2017

    Woow. Keren

    • Reply

      Lisa Fransisca

      May 1, 2017

      halo, makasih kak 😊

  25. Reply

    puspaharahap

    May 1, 2017

    Seru bacanya. Jadi pengen deh 😁😁

    • Reply

      Lisa Fransisca

      May 1, 2017

      dicoba dulu aja kak, siapa tau cocok *eh 😂

  26. Reply

    beni

    May 1, 2017

    Seru euy,, beneran emang Tim itu berpengaruh bgt. Jd kangen nanjak.
    Timnya kayak kenal ya Lis. hehe

    • Reply

      Lisa Fransisca

      May 1, 2017

      hai kak beni, wahh kenal anak2 tektok ya?
      btw, makasih sudah mampir 😁

  27. Reply

    Airin Kanita

    May 2, 2017

    Luar biasa.. ke merbabu cuma mimpilah klo gue

    • Reply

      Lisa Fransisca

      May 2, 2017

      kadang dari mimpi bisa jadi kenyataan lho hehe

  28. Reply

    Sehat Dinati Simamora

    May 2, 2017

    Thank you for writing! I just miss my hiking experience. Semacam udah ribuan tahun lalu hiking, saking ga pernah menjamah gunung lagi #sedih
    BENAR. Bukan kemana-nya, tapi dengan siapa-nya.

    • Reply

      Lisa Fransisca

      May 2, 2017

      jadi sebenarnya sehat umur berapa? 😱
      btw, makasih udah mampir yah

  29. Reply

    Inez Dwijayanti

    May 9, 2017

    mantap lisa seru juga untung macan nya ngga ngikutin…

    • Reply

      Lisa Fransisca

      May 9, 2017

      huahaha ineez, komen lu sesuatu banget 😂😁

  30. Reply

    abesagara

    May 16, 2017

    Emang mendaki gunung bareng sohib2 sejati tuh asik banget, perjalanan yg melelahkan bakal gak terasa lelahnya kalau bareng sohib2 kece kita.

    • Reply

      Lisa Fransisca

      May 17, 2017

      iyaa, bener banget kak!
      btw, terima kasih sudah berkunjung 🙂

  31. Reply

    hendribahagia

    November 8, 2017

    Mbak beli survive lite dimana? Skalian merk nya dong. Trima kasihh…

    • Reply

      Lisa Fransisca

      November 9, 2017

      halo! di toko outdoor atau di online shop semacam tokped, bukalapak ada kok mas.. merknya great outdoor

  32. Reply

    Jalur Pendakian Gunung Merbabu

    November 13, 2017

    Terimakasih atas tulisan tentang Jalur Pendakian Gunung Merbabu.
    Salam.

    • Reply

      Lisa Fransisca

      November 13, 2017

      sama2 kak. salam hangat dari tektok team.

LEAVE A COMMENT

Lisa Fransisca
Indonesia

Halo! Saya Lisa. Di blog ini saya akan bercerita. Baik melalui rangkaian kata, coretan gambar, maupun foto-foto yang diabadikan saat melakukan perjalanan.

Archives
Part of
Kubbu Network
Blogger Perempuan