Adventure Culture Environment Hiking Travel

Menelusuri Taman Negara Pulau Pinang

on
July 1, 2020

Taman Negara Pulau Pinang terletak di Teluk Bahang. Tepatnya, sudut barat laut Penang dan menghadap Selat Malaka. Bagi penyuka kegiatan outdoor, taman nasional ini bisa jadi pilihan tempat berlibur. Selain lokasinya mudah ditempuh, ia juga menyajikan keindahan hutan, pantai, dan keanekaragaman fauna. Tak ketinggalan juga konservasi penyu.

Taman Negara Pulau Pinang memiliki luas sekitar 2,563 hektar. Dari George Town, Merin dan aku menaiki Rapid Penang 102. Dengan waktu tempuh kurang dari satu jam, kami tiba di taman nasional ini. Ongkos yang dibayarkan juga sangat terjangkau. Hanya 3.5 RM.

Setibanya, Merin dan aku mendaftarkan diri di Registration & Information Center. Kemudian kami diberikan peta. Hanya satu jalur trekking menuju Pantai Kerachut yang dibuka hari itu. Jalur lain melewati Canopy Walkway ditutup sementara. Begitu juga dengan jalur menuju Rumah Api Muka Head. Atau yang kita kenal dengan mercusuar.

Selain trekking, kita juga bisa menaiki perahu menuju Pantai Kerachut. Trekking tidak dipungut biaya. Sedangkan menaiki perahu berbayar. Biayanya sekitar 40 hingga 50 RM. Lalu, pilihan Merin dan aku? Tentu saja trekking. Hahaha.

Pada tahun 1940, jalur menuju Pantai Kerachut juga digunakan masyarakat dan imigran Aceh untuk mengambil kayu. Kayu tersebut digunakan untuk membangun rumah. Dan juga untuk membuat perahu. Kayu ditarik oleh kerbau menuju area terbuka. Meninggalkan bekas pada jalur berupa parit. Karena itulah, jalur ini disebut Jalan Penarikan.

Di tengah perjalanan, langkah kakiku terhenti. Sebuah papan bertuliskan JUNGLE ORCHESTRA menarik perhatian.

Membacanya, aku berdiam diri sejenak. Menutup rapat kedua mata. Menarik napas panjang. Menenggelamkan diri dalam riuhnya melodi hutan. Kicauan burung, suara katak, dan nyanyian jangkrik. Sahut-menyahut dengan desiran angin. Sungguh sebuah melodi yang menakjubkan!

Sembari melanjutkan perjalanan, pikiranku sempat melayang. Kata penutup film berjudul Racing Exctinction melintas. Berdurasi sekitar 1.5 jam, film ini bercerita tentang kepunahan massal bersifat antropogenik. Yang didokumentasikan oleh para ilmuwan dan jurnalis.

“The whole world is singing…. But we’ve stopped listening.”

“Hello!” Sebuah suara memecah lamunanku.

“Oh, hello!” Balasku.

“I am waiting for my friends. They are walking behind me. Anyway, I live here, in Penang. Where are you from?”

“We are from Indonesia.” Jawabku, lagi.

Merin dan aku beristirahat sejenak. Berbincang dengan kakek berusia 72 tahun ini. Memperkenalkan diri masing-masing. Seraya menemaninya menunggu keempat temannya.

“So, you’re a Christian and come from Sumatera?” Kakek menanyakan ulang perkataanku dengan hati-hati. “And, you’re Moslem and come from Java?” Tanyanya juga pada Merin.

Merin dan aku tersenyum. “Yes,” Jawab kami.

“Oh wow, how come? Are you a high school friend? Because you’re coming from different backgrounds. Which in my opinion is rare to find here.”

“Oh, really? We’re not high school friend.” Merin menjawab. Dengan singkat, ia menceritakan bagaimana kami bisa berteman.

“Wow, that’s nice! I hope you can keep it up! Humanity above religion, huh? Hahaha.” Merin dan aku ikut tersenyum. Tak lama, keempat teman kakek datang. Ia kemudian mengenalkan kami dengan mereka. Lalu mengabadikan foto bersama.

“Young ladies, you can go ahead. We’re gonna rest here.” Mendengarnya, Merin dan aku permisi. Lalu kembali berjalan menuju Pantai Kerachut.

Selain keindahan pasir putihnya, Kerachut memiliki beberapa keunikan. Pantai ini merupakan tempat bertelurnya penyu. Bukan hanya itu saja, ia juga memiliki Danau Meromiktik.

Danau Meromiktik memiliki 2 lapisan air. Yaitu, air tawar dan asin yang tidak bercampur. Konon danau ini hanya satu-satunya di Malaysia. Dan, hanya terjadi saat monsun. Yaitu bulan April hingga Mei dan Oktober hingga November. Selama periode ini, angin kencang dan ombak yang kuat menyebabkan air laut membanjiri danau. Sehingga danau dipenuhi dengan air laut dan air tawar. Sedangkan di musim kemarau, danau terlihat kering. Yang ada hanyalah rerumputan dan lumpur.

“Baliknya naik boat aja mau enggak?” Tanya Merin.

“Oke, tapi gue ke ujung dulu ya. Mau lihat ada apaan di sana.”

Aku terus menjejakkan kaki ke ujung Pantai Kerachut. Berharap bisa melihat konservasi penyu. Merin yang sudah mengajak ke Monkey Beach, akhirnya mengikuti. Ia memang sempat ragu bisa menemukan pusat konservasi penyu. Mengingat pernah membaca artikel tempat ini sempat ditutup.

Dan ternyata, kami menemukannya. Yaay! Terdapat beberapa ekor tukik di pusat konservasi. Ada juga spesies Penyu Agar serta Penyu Karah. Informasi karakteristik biologis penyu juga terpajang di tembok. Bersama dengan beberapa artikel media cetak. Dan, jenis-jenis penyu yang bisa ditemukan di Malaysia. Seperti Penyu Belimbing, Penyu Agar, Penyu Karah, dan Penyu Lipas.

Saat itu, sedang tidak ada petugas yang berjaga di sana. Setelah puas mengamati para penyu, Merin dan aku berjalan ke dermaga. Kami hendak menyeberang dengan perahu. Menuju Pantai Monyet. Tawar-menawar terjadi. Kami mendapatkan harga 40 RM untuk ke Pantai Monyet. Dan, tambahan 40 RM lagi untuk diantarkan kembali ke pintu masuk taman nasional.

Meski memiliki hamparan pasir putih, pantai ini terbilang sepi. Warung-warung penjaja makanan tidak buka. Dan, pengunjung pun hanya segelintir orang. Aku pun tidak tahu kenapa. Yang kulihat, beberapa sudah diantarkan menyeberang. Entah menuju pintu keluar atau Pantai Kerachut.

Sementara menunggu Merin menunaikan solat, aku bermain ayunan. Yang tergantung di pinggir pantai. Membenamkan kaki di pasir dan mendengarkan deburan ombak. Berkejar-kejaran di bibir pantai.

Usai solat, Merin kembali. Selang lima belas menit, kami memutuskan untuk pulang.

Tanpa sengaja, kami bertemu kembali dengan rombongan kakek di pusat informasi. Mereka menawarkan makan siang bersama. Karena belum memiliki rencana lagi hari itu, kami pun mengiyakan. Seru sekali mendengarkan pengalaman mereka. Serta, cerita-cerita unik mengenai Penang.

TAGS
RELATED POSTS
16 Comments
  1. Reply

    febi

    July 2, 2020

    Dari setiap perjalanan biasanya kalo gw pribadi ngga melulu nemuin pelajaran berharga, ada beberapa tapi lebih banyak jadi tahu sifat seseorang yang tadinya ngga kelihatan..

    Dari artikel ini paling penasaran sama cerita penyu sebenernya karena basicnya suka hewan (kecuali kecoa)..haha..
    Ditunggu cerita lainnya tentang pengalaman unik saat travelling..

  2. Reply

    Mrs.kingdom17

    July 2, 2020

    Wowww suka banget sama quote dari film racing extinction. Aku juga kalau di hutan gitu suka dengerin kicauan burung, berasa alam banget. Overall ceritanya lengkap banget dan semakin jelas karena disertai foto pendukung. Cuma aku masih ada yg bingung, kan ada foto ubur-ubur ya, tapi gak ada penjelasan apapun, padahal aku agak penasaran setelah tahu itu ubur-ubur beracun…

    • Reply

      Lisa Fransisca

      July 3, 2020

      Oh iya ya, Kak. Saat masuk area Pantai Kerachut, ada papan larangan berenang karena ubur-ubur di sini beracun. Tapi aku belum melihat wujudnya sampai akhirnya jalan ke dermaga. Dari sini jelas banget kelihatan jumlah mereka ada banyak. Dan jenisnya berbeda-beda.

  3. Reply

    Nia Devy

    July 2, 2020

    Seru banget kalau lagi backpackeran ketemu orang-orang asyik untuk cerita. Jadi otomatis dapet ilmu dan pengalaman baru. Apalagi jalan-jalan explore alam gini yang sekarang dirindukan, karena covid-19 jalan-jalannya explore dapur sama ruang tamu aja. Huhuhu
    Pantai putihnya masih bagus banget kak, kelihatannya juga tidak begitu ramai. Suasana kaya gini yang jarang ditemuin, berasa private.

  4. Reply

    Antin Aprianti

    July 3, 2020

    Wow kakeknya udah 72 tahun masih kuat tracking.
    Sejujurnya daku penasaran sama ubur-ubur dan penangkaran penyunya kak, sayang nggak ada penjaganya ya jadi nggak bisa nanya-nanya. Tapi seru banget travelingnya

  5. Reply

    i n n a

    July 3, 2020

    Penasaran sama Panjang jembatan pantai kerachut, sama dengan situ gunung ga sie?
    coba kasi makan penyu di penangkarannya pasti negri-ngeri seru deh.

  6. Reply

    BayuFitri

    July 3, 2020

    Bagus pemandangannya jadi mupeng pengen traveling..btw itu betul ya di Malaysia hnya ada satu danau?

  7. Reply

    Rivai Hidayat

    July 4, 2020

    Aku thu suka kalau lihat para orang tua yang masih hiking. Dulu pernah ketemu orang tua dari jepang yang sedang naik gunung ungaran. Mereka sangat menikmati pendakiannya.

    Taman nasionalnya sangat bersahabat bagi para pengunjung

  8. Reply

    Dayu Anggoro

    July 4, 2020

    Keren si ini Kak, salah satu tempat wisata yang saya jarang denger di Malaysia, apalagi saya belum pernah ke sana hehehehe.

  9. Reply

    Rara

    July 4, 2020

    Kok aku malah fokus fi quote si Kakek ‘Humanity above religions’ hehehe

    Perjalanan yang seru ya kak. Setiap perjalanan pasti ada cerita seru di dalamnya. Nice sharing kak

  10. Reply

    Retno Nur Fitri

    July 4, 2020

    Si kakeknya pinter banget nebak asal kita darimana hanya dari mimik wajah hehe, cerita yang sangat menyenangkan kak. Bertemu orang baru dan bertukar cerita, itu penangkaran penyunya dari yang bertelur sampai dia menetas kak? Terus kalo udah menetas begitu dikembaliin ke laut gak? Sayang ya gak ada petugasnya jadi gak bisa cari tau banyak hal, padahl aku penasaran sama penangkaran penyunya ๐Ÿ˜Š

  11. Reply

    Ning!

    July 4, 2020

    Hai Lisa, kok aku kangen ya sama kamu, haha

    Kamu tuh orangnya selalu ceria & murah senyum gitu… ๐Ÿ™‚

    Btw perjalanan kamu seru banget ya, bisa ketemu kakek yang baik & penyuยฒ lucu.

  12. Reply

    Eka Rahmawati

    July 5, 2020

    Seru banget Kak aktivitas yang dilakukan di Taman Negara Pulau Pinang. Saya suka tuh sama tempat wisata yg banyak aktivitas outdoornya.

  13. Reply

    Sri Raditiningsih

    July 5, 2020

    Seru banget ceritanyaa, dari keseluruhan cerita yang ke bold dikepalaku ttg percakapan sama kakek ttg perbedaan agama. Kayanya buat orang asing hal itu memang hal yg asing jg yaa.

  14. Reply

    Iqbal

    July 5, 2020

    Wadaw… Rumah api muka head, seru amat namanya ๐Ÿ™‚

  15. Reply

    Dian Restu Agustina

    July 5, 2020

    Senangnya di setiap perjalanan selalu ada cerita seru dan bertemu orang baru. Seperti kakek yang disebutkan beserta rombongan dan keheranan akan pertemanan Kak Lisa dan temannya.
    Dan yang paling kusuka adalah bagian jungle orchestra…wah, pasti sangat menyenangkan mendengar melodi hutan di habitat aslinya

LEAVE A COMMENT

Lisa Fransisca
Indonesia

Bercerita melalui rangkaian kata, coretan gambar, dan foto-foto yang diabadikannya saat melakukan perjalanan.

Archives
Part of
Kubbu Network
Blogger Perempuan
Instagram
Instagram has returned invalid data.

Follow Me

Drawing Gallery
Instagram has returned invalid data.

Follow Me