Hiking Tektok Team

Kebut Gunung? Siapa Takut!

on
August 17, 2017


Rindu. Satu kata yang menggambarkan bagaimana rasa yang selama ini kupendam akhirnya menyeruak dan membuatku memutuskan untuk kembali mendaki gunung pasca cedera tulang belakang dan tulang ekor yang kualami setahun yang lalu. Rasa takut tentu masih menyelimuti. Namun, dukungan keluarga keduaku, Tektok Team, selalu bisa menjadi obat penawar.

***

Tepat setahun yang lalu, aku berpartisipasi dalam Kebut Merapi 2016. Dan tahun ini, aku kembali mengikuti Kebut Gunung Merapi-Merbabu 2017. Ini menjadi pendakian perdana yang juga bisa dijadikan tolak ukur bagaimana kondisi tubuhku saat ini. Apakah tulang belakangku akan baik-baik saja melewati jalur berbatu, terjal, naik dan turun lereng Merapi dan Merbabu? Apakah aku sanggup menyelesaikan lomba ini hingga garis finish? Apakah aku akan menyusahkan teman satu timku nanti? Begitu banyak tanya terperangkap dalam kepala, dan jawabannya hanya bisa ditemukan jika aku mencoba mendaki lagi.

Kebut gunung yang diadakan oleh pemerintah Kabupaten Boyolali tahun ini memiliki konsep yang berbeda. Jika tahun sebelumnya pemenang lomba adalah yang tercepat tiba di garis finish, tahun ini pengetahuan mengenai tempat-tempat wisata di Boyolali, ketepatan waktu, dan kekompakan serta keutuhan tim juga akan dinilai. Bisa dibilang, kebut gunung tahun ini mengusung tema lomba lintas alam dengan menyusuri rute lereng Merapi dan Merbabu sepanjang kurang lebih 20 kilometer. Waktu yang diberikan panitia untuk menyelesaikan lomba ini adalah 7 jam.

Kami berdua belas terbagi dalam tiga tim yang masing-masing harus terdiri dari minimal satu anggota perempuan. Tim pertama terdiri dari empat anggota Tektok Team dengan “kaki racing”, yaitu Kapten Sulham, Uni Iis, Albert, dan Yadi. Tim kedua, yang juga memiliki kecepatan cukup mumpuni saat mendaki terdiri dari Bang Maman, Koko Daniel, Karey, dan Bang Halim. Sedangkan tim ketiga terdiri dari dua anak pasca cedera, Mahmud dan aku, serta suhu gunung Mas Indra dan Karet yang bahkan baru saja pulang dari Ranu Kumbolo seminggu sebelumnya. Karet, Mahmud, dan aku menjuluki tim kami “Tim Hore” karena kami tak bertujuan menjadi pemenang, melainkan berfoto dengan latar keindahan Merapi dan Merbabu. Harap maklum, pendakian ini semacam pengobat rindu bagiku dan Mahmud yang sudah lama tidak mendaki. Hehehe.

Usai mengikuti apel pagi di lapangan Desa Samiran, Selo, dan memastikan seluruh perlengkapan seperti alat tulis, ID Card, dan lembar check point sudah kami bawa, lomba pun dimulai.

Pos 1 Pertigaan Rumah Kades Suroteleng

Menyusuri jalan pedesaan menuju lereng Merapi sisi timur wilayah Desa Suroteleng, perjalanan menuju Pos 1 memakan waktu tak sampai dua jam. Pada awal pendakian, jalan beraspal masih mendominasi hingga akhirnya berganti menjadi jalur dengan trek tanah. Megahnya Merapi dan Merbabu yang menjulang di sisi kiri dan kanan mengiringi langkah kami menuju pos berikutnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is G0016071.jpg

Pos 2 Bukit Batur

Menuju Pos 2, trek tanah, lahan pertanian warga, dan hamparan bukit nan hijau mendominasi. Komoditas utama yang ditanam warga di lereng Merapi antara lain tembakau, sawi, wortel, dan tanaman hortikultura lainnya. Melewati jalur ini, kita dapat melihat Kawasan Observasi Elang Jawa (Spizaetus bartelzii). Elang-elang yang bersarang di tebing sisi kiri dan berseberangan dengan jalur pendakian ini berjumlah tidak sampai 20 ekor.

Kuedarkan pandang ke sekeliling, berharap bisa menyaksikan burung yang merupakan lambang negeri ini dan juga dilindungi karena populasinya yang semakin langka dan sulit berkembang biak. Hal ini dikarenakan Elang Jawa hanya bertelur sekali dalam setahun dengan jumlah telur hanya satu butir.

“Tadi baru keluar Mbak, nunggu lagi entah kapan keluarnya.” Jawab seorang panitia, setelah kulemparkan tanya kapan mereka akan menampakkan wujudnya.

Sirna sudah harapanku melihat mereka mengepakkan sayap di habitat aslinya. Dengan gontai aku kembali melanjutkan perjalanan. Karet dan Mas Indra telah berjalan di depan, mendahuluiku dan Mahmud yang berhenti selama beberapa menit di gardu pandang.

“Cie udah seger nih yee.” Kataku pada Karet yang mulai kembali bersemangat. Padahal sedari tadi wajahnya pucat dan hanya terdiam. Ia membalas dengan menjulurkan lidah. Ah, lega rasanya melihat wajahnya kembali ceria.

Tak jauh dari Konservasi Elang Jawa, kami melewati sebuah Goa Jepang. Namun demi mempersingkat waktu, kami memilih untuk tak berlama-lama di tempat ini. Bahkan, kami lupa mengabadikannya dalam bentuk foto. Hahaha.

wp-image-1587403532

Goa Jepang (Tektok Team 2)

Pos 2 hanya tinggal berjarak beberapa meter saja. Sebelum tiba di tempat tersebut, pohon-pohon dengan papan bertulisan unik sempat mencuri perhatian kami.

P_20170723_102703_BF
P_20170723_102751_BF

Tiba di Bukit Batur, kita dapat menyaksikan keanggunan Gunung Merbabu melalui sebuah gardu pandang yang mulai dibuka sejak bulan Agustus 2016. 

P_20170723_103426_vHDR_Auto

Nasib jadi Cinderella, dibully kakak tiri 😢

P_20170723_104100_vHDR_On

Setelah melewati Pos 2, jalan menanjak dengan kemiringan kurang lebih 70 derajat telah menanti kami. Tanjakan ini dinamakan tanjakan langit. Sungguh, trek ini menguras begitu banyak tenaga kami.

Pos 3 Dk. Tegalsruni

wp-image-1181874834

Watu Blerek (maafkan ke’alay’an kami)

Melewati Pos 3 menuju lereng Gunung Merbabu, nafas kami mulai tersengal. Pun begitu dengan langkah kaki yang mulai terseok-seok. Kondisi Karet kembali tak stabil. Wajahnya memucat. Tak sedikitpun senyum tersungging di bibirnya, meski sedari tadi Mahmud dan aku berusaha melempar lelucon.

Perlahan, kami berjalan mendahului Karet dan Mas Indra. Membiarkan waktu hanya menjadi milik mereka, sedangkan Mahmud dan aku bagai jelmaan butiran pasir di jalur Merbabu. Dilupakan dua insan yang sedang dimabuk asmara.

Tiba-tiba, kabut tebal menghalau pandang.

“Cil, gue merinding masa.” Mahmud membuka suara.

Aku terdiam.

“Karet, Mas Indra, jalan yuk. Pelen aja tapi bareng-bareng, kabutnya tebel banget.” kataku sembari berjalan mendekat ke arah Mahmud.

Kugenggam tangan Mahmud erat, lalu kuusap punggung tangannya. Berharap ia bisa lebih tenang.

“Gue nyium sesuatu…” katanya lagi.

“Udah, ntar aja.” jawabku.

Kabut tebal yang menyelimuti lereng Merbabu membuat kami bergidik. Hawa di sekeliling kami seakan berubah. Menjadi begitu mencekam. Perasaanku mulai gelisah. Ada sebuah suara samar tertangkap oleh telingaku. Ia berasal dari sisi kanan, dan jurang terjal ada di sisi kiri kami. Entah suara apa, tapi ia menyerupai suara tawon atau kumbang.

Setelah jarak Karet dan Mas Indra hanya tinggal beberapa sentimeter dengan Mahmud dan aku, kami kembali melanjutkan perjalanan. Mahmud bercerita ia seperti mencium bau sangit tadi. Ah biarlah, yang penting kabut tebal bisa kami lewati.

Pos 4 Bukit Gancik

Sebelum menuju Gancik Hill Top, kami melewati Gardu Pandang Alam Sutra. Pemandangan yang ditawarkan cukup memanjakan mata. Desainnya yang terbuat dari bambu pun terbilang unik menurutku. Yah, bila dinilai menurut generasi sekarang, tempat ini instagramable banget.

wp-image-795231318

Dua puluh menit menuju cut off time, kami baru tiba di Gancik Hill Top. Mustahil rasanya untuk tiba tepat waktu di garis finish. Tapi ya sudahlah, sejak awal memang kami tak mengejar apapun bukan?

Kondisi Gancik Hill Top ini sungguh padat merayap. Banyaknya orang yang berlalu-lalang mengabadikan berbagai pose di setiap sudut gardu pandang membuat kami enggan melebur dan memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan.

wp-image-2064431761

Gancik Hill Top (Tektok Team 1)

Lutut kanan yang mulai merintih dengan berat hati kupaksa menuruni jalur aspal menuju Lapangan Desa Samiran yang tak hanya sebagai titik awal, melainkan juga menjadi titik akhir Lomba Kebut Gunung 2017. Beruntung, Mahmud dengan sigap menggenggam tanganku yang memilih berjalan mundur agar lutut yang tengah merintih ini tak semakin parah kondisinya.

Tujuh jam berlalu begitu cepat. Meski tiba di garis finish melewati batas waktu yang telah ditentukan, namun tak sedikitpun penyesalan menyusupi hati. Karena prinsip kami hanya satu. Berangkat sebagai tim dan pulang sebagai tim.

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG-20170731-WA0137.jpg

Terima kasih untuk kebersamaannya, Tektok Team! Terima kasih Merapi dan Merbabu, kalian sukses membuatku semakin rindu mendaki.


Foto : dokumentasi Tektok Team

TAGS
RELATED POSTS
0 Comments
  1. Reply

    Beni

    August 18, 2017

    Wah Lis, luar biasa sekali anda. Saya ngebayanginnya aja udah capek duluan. Anyway, kamu nikmati gak sih setiap langkahnya? Karena kamu kan diburu waktu.

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 18, 2017

      nikmati kok, bang. buktinya banyak foto dan ceritanya kan hehe 😄

  2. Reply

    Tuty prihartiny

    August 18, 2017

    Alhamdulillah ya kaklis…
    Menyenangkan dan ‘sangat menyenangkan’

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 18, 2017

      iya kak, sangat menyenangkan 😁

  3. Reply

    thoriqalfatah

    August 18, 2017

    Huahahha aku merasa jadi kura kura, Merapi Merbabu 7 jam ???? Luar biasa banget tim tektok

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 18, 2017

      itu lereng merbabu-merapi bang MT, bukan naik gunungnya 😂

  4. Reply

    Addie VLNT

    August 18, 2017

    Asyik bangetttt sih ini!
    Ajakin dong lain kali..

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 18, 2017

      yuk, di

  5. Reply

    taumyalif

    August 18, 2017

    Viewnya bagus-bagus

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 18, 2017

      terima kasih, mas 😁

  6. Reply

    lalaysf

    August 18, 2017

    Wuidih suhu tektok!

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 18, 2017

      anak bawang saya mah 🙈

  7. Reply

    arlindya

    August 18, 2017

    Waduh harus liat kondisi juga ya klo mo naik gunung jd gak cedera gtu

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 19, 2017

      hehe iya kak 😁

  8. Reply

    Annisa

    August 18, 2017

    Aku suka prinsipnya, berangkat sebagai tim pulang sebagai tim.. Lisa kece banget deh!

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 19, 2017

      timnya yang kece kok, aku mah apa atuh 🙈

  9. Reply

    zen

    August 19, 2017

    Anak tektok gak punya lelah kayaknya… Hahaha

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 19, 2017

      adalah mas, dikira robot ga ada lelahnya 😂

  10. Reply

    Achi hartoyo

    August 19, 2017

    Cewek tangguh, hobinya tektok ke gunung. Keren!

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 19, 2017

      ndak kok, mas 🙈

  11. Reply

    Tengku Mahesa Khalid

    August 19, 2017

    Nice, gw belum pernah ke merapi merbabu 😥

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 19, 2017

      kuy lah bang haha

  12. Reply

    Shidiqsutikno

    August 20, 2017

    Waaah.. merbabu via gancik yaa mbak, saya ke merbabu bulan kemarin via selo.
    keren.. kapan2 ajak anak kubbu naik gunung mbak. 😁

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 20, 2017

      ini cuma di lerengnya, mas 😁
      yuk kubbu nanjak bareng

  13. Reply

    Airin

    August 20, 2017

    Eh, satu tim sama kak retno ya kak? Bu rete 18

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 20, 2017

      iya kak

  14. Reply

    elsamartinalova

    August 20, 2017

    keren banget siih deeek 😍😍😍😍😍

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 21, 2017

      timnya ya kak 😁

      • Reply

        elsamartinalova

        August 21, 2017

        kamu jugaaaa, 😊😊😊😊

  15. Reply

    Inez Dwijayanti

    August 20, 2017

    mantap tektok gunung.. indah ya. emang instagramable bgt!

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 21, 2017

      iya nez, viewnya kece

  16. Reply

    Hayati Ayatillah

    August 21, 2017

    Aiiissh seru amat, ka..😍

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 21, 2017

      hehe iya kak hayati.
      makasih udah mampir yah 😁

  17. Reply

    Maya Nirmala Sari

    August 21, 2017

    Ya ampun kok aku bacanya ikutan merasa capek ya. Tapi seru! Mudah-mudahan kapan-kapan bisa ikutan ah!

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 21, 2017

      yuk kak mae 😁

  18. Reply

    Maria Anastasia Wardani

    August 21, 2017

    Seru banget! Enak kalo punya teman dan tim seperjalanan yang solid!

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 22, 2017

      iya kak, bahagia punya tim sesolid mereka 🙂

  19. Reply

    bang doel

    August 21, 2017

    ga kebanyang dengan perut gue untuk kebut gunung

    • Reply

      Lisa Fransisca

      August 22, 2017

      hahaha nanjak kan pake kaki bang, bukan perut

  20. Reply

    endang cippy

    August 21, 2017

    Gk kebayang kalau disuruh tektokan 🙈🙈🙈

LEAVE A COMMENT

Lisa Fransisca
Indonesia

Halo! Saya Lisa. Di blog ini saya akan bercerita. Baik melalui rangkaian kata, coretan gambar, maupun foto-foto yang diabadikan saat melakukan perjalanan.

Archives
Part of
Kubbu Network
Blogger Perempuan