Salahkah Aku?

Kemana gentar ini mengadu ketika mereka sibuk mengolok-olokku?

Dibasung raga berujung tumbang, dicucuk rokok menetap perih

Aku berjalan terseok-seok di atas tanah basah. Kaki kanan bagian depanku patah. Terserempet motor dua atau tiga bulan yang lalu. Tak ada yang peduli. Aku harus tetap berjuang sendiri.

Continue reading

Aku Pasti Bisa, Ayah!

Part 1 : Aku Bukan Bonekamu, Yah

 

“Apa tema buku terbaru Kak Nana? Sepertinya berbau piano ya?” Seorang pembawa acara membuka sesi pertanyaan.

“Iya. Setelah yang pertama tentang seorang remaja yang broken home, kali ini aku bikin buku ilustrasi tentang belajar piano itu menyenangkan. Buku ini berisi teknik bermain piano yang dikemas dengan cara menyenangkan dan penuh ilustrasi.”

“Wow! Seru dong ya. Apa ada hubungannya antara buku pertama dan kedua Kakak?”

“Melalui buku ini, aku mau bilang kalau anak broken home juga bisa berprestasi. Jadi buat teman-teman semua, yuk berhenti melabeli kami dengan berbagai stigma negatif. Karena kami juga ingin diterima oleh masyarakat.”

Continue reading

Aku Bukan Bonekamu, Yah

Media: Cat air pada kertas

“Hah hah hah hah…”

Aku terbangun. Napasku tersengal-sengal. Ada apa? Rasanya bagai dilanda mimpi buruk.

“Hah hah hah hah…”

Napasku masih tersengal-sengal. Kenapa? Kenapa rasanya tak mau berhenti? Aku menyeka peluh yang bercucuran membasahi pelipis. Kutarik napas dalam dan kuhembuskan perlahan. Berusaha membuat diri menjadi lebih tenang.

Continue reading

Karin dan Deteksi Dini Tumor Payudara

Kita seringkali abai.

Padahal, deteksi dini tumor payudara merupakan hal yang sangat penting.

Yayasan Kanker Indonesia - Deteksi dini tumor payudara

“Rara…, gue diduga kena tumor ganas payudara….”

Aku tersentak. Tak ada lagi kata-kata yang terucap melalui pengeras suara gawaiku. Suara itu menjelma sunyi. Hanya sesekali isak tangis terdengar. Aku masih merekatkan telinga pada gawai yang kugenggam, mendengarkan hening di seberang sana sembari menyiapkan tas kecilku, hendak menyusulnya.

Karin, ia duduk terkulai di bangku koridor rumah sakit. Seorang diri. Aku mendekatinya perlahan, kemudian duduk di sampingnya. Namun, ia tak menoleh. Tetap saja duduk tertunduk. Rambutnya yang terurai menutupi wajahnya yang basah dengan derai air mata. Karin, ia yang biasanya selalu tertawa, kini menangis pilu di hadapanku.

Continue reading