Fiction Health

Aku Pasti Bisa, Ayah!

on
October 30, 2018

Part 1 : Aku Bukan Bonekamu, Yah

 

“Apa tema buku terbaru Kak Nana? Sepertinya berbau piano ya?” Seorang pembawa acara membuka sesi pertanyaan.

“Iya. Setelah yang pertama tentang seorang remaja yang broken home, kali ini aku bikin buku ilustrasi tentang belajar piano itu menyenangkan. Buku ini berisi teknik bermain piano yang dikemas dengan cara menyenangkan dan penuh ilustrasi.”

“Wow! Seru dong ya. Apa ada hubungannya antara buku pertama dan kedua Kakak?”

“Melalui buku ini, aku mau bilang kalau anak broken home juga bisa berprestasi. Jadi buat teman-teman semua, yuk berhenti melabeli kami dengan berbagai stigma negatif. Karena kami juga ingin diterima oleh masyarakat.”

“Waah sarat makna ya, Kak. Kalau enggak salah, minggu lalu habis konser di Jogjakarta juga kan ya? Kalau boleh tahu, siapa sih yang menginspirasi Kak Nana bermain piano?”

“Iya, minggu lalu habis konser di Jogjakarta bareng Sunshine Orchestra. Salah satu lagu yang aku bawakan berjudul The Moldau karya Bedrich Smetana. The Moldau sendiri mengilustrasikan aliran Sungai Moldau. Lagu ini salah satu lagu favorit ayah. Beliau yang menjadi inspirasiku dalam bermain piano. Satu pesan ayah yang selalu kuingat, jadilah seperti air yang tenang namun menghanyutkan.”

“Wow! Memang orangtua itu memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan anak ya. Ngomong-ngomong, mumpung ada keyboard di kafe ini, boleh enggak Kak Nana bawain satu lagu untuk kita? The Moldau, mungkin?” Rayu sang pembawa acara.

“Boleh deh. Aku bawakan lagu Fathers and Daughters-nya Michael Bolton, boleh ya? Lagu ini aku persembahkan untuk ayahku dan ayah-ayah hebat di luar sana.”

“…

If there’s a promise that I broke, I know one day you will understand

When times are hard, I know you’ll be strong

I’ll be there in your heart when you’ll carry on

Like moonlight on the water and sunlight in the sky

Fathers and daughters never say good bye

…”

Michael Bolton – Fathers and Daughters (Never Say Goodbye)

Permainan pianoku belum usai. Mataku mencari ayah di bangku tamu undangan. Namun, ia telah pergi. Ayah, apakah ayah melihat lagu persembahanku untukmu?

***

“Selamat ya Na, peluncuran buku kamu tadi sukses! Ayah bangga sama kamu.” Ayah mengetuk pintu. Ia kemudian menyembulkan kepalanya di pintu kamarku. Tumben sekali. Biasanya ia menungguku memperbolehkannya masuk, baru membuka pintu.

“Thanks, Yah. A…, apa tadi ayah lihat permainan pianoku?” Aku bertanya pada ayah dengan terbata-bata.

“Ayah lihat kok. Tapi tadi mata ayah kelilipan debu, jadi ayah izin ke toilet…”

“Kelilipan debu atau ayah nangis?” Aku memancing ayah sambil menyengir lebar memandangnya.

“Hmm… Ayah kasih tahu nggak yah… Hahaha.” Ayah tertawa, yang membuatku juga tertawa.

Ayah, terima kasih ya. Aku bisa seperti ini karena ayah. Meski harus kuakui aku pernah sangat membenci ayah. Aku benci kalau ayah membentakku. Aku benci saat ayah memaksaku latihan piano. Aku benci saat ayah mengatur jadwal piano tanpa bertanya padaku. Aku benci saat ayah menyuruhku menjadi pianis seperti ayah. Aku benci saat ayah bercerai dengan ibu… Tapi… Ah, akhir-akhir ini ingatan tentang masa lalu seringkali berputar di kepala. Seiring dengan peluncuran karya terbaruku.

“Ibu, kemarin malam aku bilang ke ayah mau jadi ilustrator.” Aku menelepon ibu.

“Terus?” Jawab Ibu.

“Ayah mau aku jadi pianis, bukan ilustrator…”

“Nana coba lagi ya, Nak… Ibu yakin ayah pasti ngizinin kok.”

“Kenapa ibu bisa seyakin itu? Kemarin ayah bilang nggak mau aku jadi anak desain yang amburadul.”

“Pasti diizinin kok, kalau Nana memang serius ingin jadi ilustrator. Mungkin Nana benci sama ayah karena selalu menyuruh Nana latihan piano. Tapi itu untuk kebaikan Nana. Supaya Nana punya bekal di masa depan. Ayah mati-matian cari uang supaya Nana bisa sekolah, bisa les pelajaran, bisa les piano sampai jago kayak sekarang. Itu semua berkat ayah lho.”

“Iya, tapi…”

Apa aku harus bilang lagi pada ayah? Apa ayah akan mengizinkanku menjadi ilustrator? Atau jangan-jangan ayah akan memarahiku lagi? Aku… Takut…

Dua minggu setelah kejadian itu, aku mencoba lagi berbicara pada ayah. Malam itu hari ulang tahun ayah. Aku akan memberinya kejutan berupa gambarku. Sekali lagi saja, aku akan berusaha mencoba…

Media: cat air pada kertas

“Selamat ulang tahun, Ayah. Ini kado dariku.” Aku memeluk ayah, meski rasanya begitu canggung. Aku tak pernah melakukannya lagi sejak ayah dan ibu bercerai.

“Boleh ayah buka?”

Aku mengangguk, berharap ayah senang. Tapi tiba-tiba, ayah melempar pigura yang berisi ilustrasi buatanku. Aku kesal. Marah. Semua emosi berkecamuk dan seakan meluap dalam dada. Ayah…? Cukup, Yah! Cukup! Aku muak dengan semuanya! Aku muak!!!

Aku meninggalkan ayah menuju kamar. Aku sudah geram. Aku muak. Marah. Semua rasa itu bercampur dan membuat dadaku lagi-lagi terasa sesak. Aku mengambil cutter dan menyayat pergelangan tangan kiriku. Rasa sakit itu masih begitu menyesakkan. Kali ini, aku menyayat pergelangan tangan kananku. Ah… Rasa sakit di dadaku sedikit berkurang. Berpindah ke kedua pergelangan tanganku… Tapi tetap saja…

“Nana! Kamu darimana jam segini baru pulang?! Sudah seminggu sejak ayah ulang tahun, kamu selalu pulang malam. Mau jadi apa kamu?!” Ayah bertanya padaku dengan nada suara tinggi.

Aku malas ribut… Aku lelah…

“Dari rumah temen.” Aku menjawab seadanya.

“Kenapa enggak ngabarin ayah?! Lihat, ini sudah tengah malam! Kamu juga enggak les piano kan tadi?” Nada suara ayah masih tinggi.

“Aku gambar di sana! Lagipula, peduli apa ayah sama hidupku?!” Suaraku bergetar. Ah, aku harus bergegas pergi dari sini. Aku enggak boleh nangis di depan ayah.

Plaaaak!

Ayah menamparku. Ugh! Sakit! Sakit sekali rasanya. Bukan. Bukan di pipi. Lagi-lagi dadaku terasa sesak.

Aku berlari ke kamar. Kukunci pintu kamarku. Kusayat pergelangan tangan kanan dan kiriku berkali-kali, tapi rasa sakit itu tak kunjung hilang. Kenapa? Kenapaaa?!

Media: pensil pada kertas

Aku terbangun. Ah, aku ketiduran ya setelah bertengkar dengan ayah? Kepalaku pusing. Darah di pergelangan tanganku telah berhenti mengalir. Aku berjalan gontai ke pintu kamar. Aku haus.

“Ayah, lihat! Nana sudah lulus SD. Sebentar lagi ia akan jadi seorang remaja. Enggak terasa ya?”

Suara itu… Suara ibu?

Aku berjalan menuruni tangga sambil memegangi kepalaku yang terasa berat. Apa aku berhalusinasi mendengar suara ibu? Mataku terbelalak. A, ayah?! Sedang apa dia? Menonton video? Ah, itu aku dan Frans saat masih kecil…

Ayah sepertinya mendengar suara langkah kakiku. Ia mematikan televisi dan berpura-pura mencorat-coret buku partiturnya. Samar-samar terlihat. Ada sebuah gambar karikatur di sana… Ayah?

“Kenapa kamu belum tidur? Ini udah jam 2 pagi.” Ayah membuka pembicaraan.

Aku diam, terlalu malas untuk menjawab.

“Tanganmu kenapa?” Tanya ayah lagi.

Aku terkejut. Astaga! Aku lupa membersihkan darah di pergelangan tanganku!

“Enggak apa-apa.” Jawabku singkat.

Ayah masih diam. Aku tahu wajahnya menyiratkan tanda tanya. Tapi, apa peduliku? Ia saja tak peduli denganku. Aku bergegas mengambil sebotol air minum, lalu kembali ke kamar.

“Nana kenapa? Kemarin ayah cerita tangan kamu berdarah. Kamu habis ngapain?” Ibu bertanya di telepon.

“Enggak apa-apa, Bu.” Aku mengelak.

“Bener nggak apa-apa? Udah coba ngomong lagi ke ayah, kamu mau kuliah jurusan DKV?”

Deg!

“Belum, Bu…” Aku terkejut mendengar perkataan ibu. Apa ayah belum cerita ke ibu ya?

“Nanti cerita ke ibu ya. Biar ibu yang marahin ayah kalau enggak mengizinkan kamu jadi ilustrator.”

“Hahaha, baik, Bu.” Aku menutup telepon. Untung saja ibu tidak bertanya lebih jauh mengenai darah di tanganku.

Tok tok tok.

“Na, ayah masuk ya?” Ayah segera membuka pintu kamarku dan meletakkan selembar kertas di meja belajarku. Ia kemudian beranjak pergi.

Aku diam. Masih malas berbicara dengan ayah. Tapi, aku penasaran dengan selebaran itu. Aku berjalan mendapatinya. Apa ini? Lembar pendaftaran calon mahasiswa jurusan DKV?

Aku bergegas menuruni tangga, hendak menemui ayah yang sedang bermain piano. Ah, Fathers and Daughters Michael Bolton mengalun lembut dari tarian jari-jemari ayah.

“Ayah!” Aku memanggilnya. Wajahnya seketika kaku. Permainan pianonya terhenti.

“I, ini apa? Apa aku boleh kuliah jurusan DKV?” Aku berusaha menahan diri untuk terlihat senang. Belum tentu aku diizinkan, kan?

“Terserah kamu.” Ayah kembali melanjutkan permainan pianonya.

“Serius? Te… Terima kasih, Yah!” Lagi, aku canggung. Aneh rasanya mengucapkan terima kasih dan maaf karena ayah saja jarang mengucapkan kata-kata itu padaku.

Aku berlari ke kamar, mendapati gawaiku yang bertengger manis di atas tempat tidur.

“Ibu, ayah memperbolehkanku kuliah jurusan DKV!” Penuh antusias, aku berbicara dengan ibu.

“Tuh kan, apa ibu bilang pasti dibolehin. Ayah kamu kan dulunya juga suka gambar.” Timpal ibu.

“Ayah suka gambar?” Tanyaku memastikan.

“Iya, dan gambarnya bagus. Sayangnya memang enggak diterusin sih.”

“Kenapa, Bu?” Tanyaku lagi.

“Coba kamu tanya ayah aja.”

“Mana mau ayah cerita. Kita aja jarang ngobrol.” Seketika aku merasa kosong. Ya, kalau dipikir-pikir, aku jarang sekali berbincang-bincang dengan ayah.

“Hahaha, kalian berdua tuh mirip. Coba Nana sekali-kali jadi air, jangan jadi api melulu ngadepin ayah.”

“Maksudnya gimana, Bu?”

“Yowis, kamu pikirin deh tuh omongan ibu. Ibu mau pergi dulu. Teleponnya ibu matiin ya.” Tut tut tut…

Yah, diputus. Air…? Api…? Apa sih maksud ibu?

Aku berjalan lagi ke lantai bawah. Ayah masih menyanyikan lagu yang sama. Dan lagi-lagi, permainannya terhenti saat melihatku.

“A, ayah, a, aku sudah isi formulir pendaftarannya.” Aku membuka percakapan, canggung.

“Ya sudah, besok ayah antar kamu ke kampus. Janji kuliah yang bener ya.”

“Yah…, apa bener dulu ayah suka gambar juga? Aku lihat beberapa gambar ayah di beberapa lembaran buku partitur.”

“Ini pasti ibu kamu yang cerita ya?” Ayah berbalik bertanya.

“Aku lihat sendiri saat ayah sedang nonton video waktu itu. Ada gambar karikatur seorang konduktor memegang baton di buku partitur ayah.”

“Kalau ayah cerita, kamu mau janji satu hal ke ayah?”

“Janji apa, Yah?”

“Janji untuk tidak lagi menyakiti dirimu dengan cutting. Ya?”

Aku terdiam dan menunduk. Jadi, ayah tahu?

“Mungkin ayah selama ini terlalu keras padamu. Ayah minta maaf. Tapi itu semua karena ayah sayang sama kamu. Hidup itu enggak gampang, Na. Untuk sukses, ada banyak hal yang harus kamu lalui. Ayah melihat bakatmu. Ayah mau tahu sekeras apa kamu mempertahankan keinginanmu untuk jadi ilustrator. Dan ternyata, kamu tetap kekeuh dengan pendirianmu…

Ayah akui, dulu ayah juga suka menggambar. Tapi tidak didukung oleh almarhum kakek. Semua alat gambar ayah dibuang. Ayah memilih piano pada akhirnya. Ayah bisa jadi pianis sukses karena nurut sama kakek. Jadi ayah berpikir kalau kamu nurut, kamu akan bisa seperti ayah. Tapi ayah sadar…”

Aku masih terdiam, menunggu lanjutan cerita ayah.

“Ayah sadar kalau kamu punya jalanmu sendiri. Jadi ayah harap kamu bisa kuliah dengan baik, ya? Dan terima kasih, gambar kamu kemarin bagus kok. I… Itu… Gambarmu ayah pajang di kamar.” Ayah menggaruk kepalanya.

Ayah… Tak satupun kata keluar dari mulutku. Aku enggak pernah tahu kalau masa lalu ayah mirip denganku.

“Ngomong-ngomong, ucapan ayah tadi keren nggak? Keren kan? Hahaha.” Ayah tertawa, membuat tembok pembatas antara ayah dan aku runtuh seketika. Membuat tali-tali yang menyangkut di badan boneka marionette sepertiku putus satu per satu. Seakan sebuah gunting berukuran besar telah memutusnya. Ayah, maafkan aku…

Tahun demi tahun berlalu. Sesuai dengan harapan ayah, aku lulus dengan nilai yang baik dan bekerja sebagai seorang ilustrator. Oh iya, aku juga masih menekuni bermain piano. Meski sekarang aku lebih sering bermain piano pop dan jarang terlibat dalam orkestra musik klasik.

Hari ini hari peluncuran buku ilustrasiku yang kedua. Buku ilustrasi tentang piano yang aku persembahkan untuk pianis terhebat dalam hidupku. Ayah. Aku harap ia juga mendengarkan permainan piano yang akan aku bawakan seusai sesi tanya jawab nanti…

TAGS
RELATED POSTS
25 Comments
  1. Reply

    Deny Oey

    October 30, 2018

    Sambungan cerita sebelumnya ya..
    Ceritanya menarique. Mungkin sesekali Lisa bisa bikin cerpen yg temanya gunung.. 😊

  2. Reply

    Maria Widjaja

    October 30, 2018

    Kok ibunya ga dibahas lagi, Kak? Setidaknya terima kasih gitu telah membantu meluluhkan hati Ayah untuk mengizinkan Nana kuliah di jurusan yg Nana mau.

    DKV itu apa ya btw?

  3. Reply

    ristiyanto

    October 31, 2018

    Ayah yang baik hati. Setelah melihat keteguhan anaknya, akhirnya hatinya luluh juga.

  4. Reply

    Yunita Tresnawati

    October 31, 2018

    Nangis bombay ini bacanya. Teringat dulu aku mau kuliah jurusan DKV di IKJ atau FFTV ehh ga boleh hehhhehe. Lisa, keren ih nulis fiksi jago, nulis travel juga oke

  5. Reply

    Antin Aprianti

    October 31, 2018

    Orangtua memang selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, walaupun kadang anaknya nggak pernah ngerti. Ahh aku terharu 🙁
    Ini kelanjutan cerita sebelumnya ya kak? nggak sabar nunggu kelanjutan cerita selanjutnya.

  6. Reply

    Airin

    October 31, 2018

    Keren banget cerpennya.. sampe terhanyut bacanya

  7. Reply

    Kelanakucom

    October 31, 2018

    Ceritanya berlanjut dr yg kemarin ya ini?
    Bagus euy😂

  8. Reply

    tuty prihartiny

    October 31, 2018

    Keren KakLis lanjutan ceritanya. Salut pisan, selain suhu gunung, Kancilnya Mr “..” ini bagus banget buat tulisan dan ilustrasi. Jadi penasaran dengan potensi lain KakLis. Terus mengembangkan kemampuan diri ya Kak, jangan maju mundur atau sesekali aja. Caiyo

  9. Reply

    Paulus Wahyu Miko

    October 31, 2018

    Saya suka dari sisi pencerita yang memaparkan tentang keinginan hatinyaa sebagai anak yang belum tentu didengar orang tua seperti nyessss

  10. Reply

    Ristiyanto

    October 31, 2018

    Tekad yang kuat dari seorang anak akan membuat orang tua pun menjadi luluh.

  11. Reply

    Budi Setiadi

    October 31, 2018

    Uhh meleleh hatiku, mata langsung berkaca-kaca. berasa flashback di masa lalu ketika memilih jurusan kuliah juga. tapi bedanya aku gak pake sayat-sayatan sihh..

  12. Reply

    Wulan

    October 31, 2018

    mba kamu suka atau menggeluti isu mental health kah? mau dong cerita-cerita tentang depresi, mood swing atau bipolar gitu hehee 🙂

  13. Reply

    Eka Murti

    October 31, 2018

    Bikin kangen alm. Papa aja deh ini… My number one motivator.

  14. Reply

    Dian Restu Agustina

    October 31, 2018

    Ceritanya keren, ilustrasinya juga.. Sukaaaa!! Banyak di luar sana ortu yang masih memaksakan kehendak ke anak
    Hiks!
    Ditunggu cerita lainnya ya Lisa😍

  15. Reply

    Dayu Anggoro

    October 31, 2018

    Mengalur banget ceritanya, keren lah akhirnya si Nana impiannya bisa terwujud sukses jadi ilustrator.

  16. Reply

    Elsalova

    October 31, 2018

    Makasih lho sis bikin aku mewek malem-malem. Bikin aku tindu ayah. Tak ada orangtua ya tdk menginginkan yg terbaik untuk anaknya.

  17. Reply

    Taumy

    October 31, 2018

    Mendidik anak dengan cara berbeda. Unik ya ceritanya. Terima kasih sudah berbagi cerita menarik seperti ini. Endingnya tidak terduga.

  18. Reply

    desy

    October 31, 2018

    ceritanya bikin terhanyut. jadi dapat semangat baru untuk tetap teguh pada pendirian awal di masa depan.. ada pesan tersirat di balik cerita ini. pesan yang sering kita hadapi di kehidupan.

  19. Reply

    INA

    November 1, 2018

    Keren ka cerepennya, bikin sedih bacanya, bayangin sosok ayah dalam cerita ini, aku kok kasian sama ayahnya yaa, kayany kesepian gitu hiks udah cerai terus anaknya juga ga begitu deket sama ayahnya karna di kekang hiks.

  20. Reply

    lenifey

    November 1, 2018

    Memang kadang dalam sebuah hubungan itu yang penting komunikasi.
    Terharu akhirnya bapaknya luluh juga.

  21. Reply

    Dewi Setyowati

    November 1, 2018

    Ini sih multitalenta nih Mba Lisa.. Bisa nggambar lalu dibikin ilustrasi untuk cerpennya sendiri. Keren, Mbak.

  22. Reply

    Maya Nirmala Sari

    November 1, 2018

    Jadi baper aku inget Papa. Inget sering membantah juga 🙁
    Cerita Kak Lisa menyentuh hati banget. Ditambah lagi dengan ilustrasi bikinan sendiri. TOP banget pokoknya.

  23. Reply

    Gina

    November 3, 2018

    Ceritanya bikin baperr, aku paling ngga kuat kalau ada cerita hubungan ayah dan anak….dan benar banget jangan selalu jadi api, sekali-kali jadilah air dan itu bisa diterapin ke siapa saja. Ditunggu cerita lainnya kak

  24. Reply

    Eka Rahmawati

    November 5, 2018

    Aku suka kak sama ceritanya. Sambungan yg cerita kemarin yaaa heheh.

  25. Reply

    Putri Reno

    November 11, 2018

    Wah Lisa. Semakin terdepan. Gw nangis bacanya. Trus gw mikir, ini alur ceritanya mirip beberapa film yang digabung bersamaan. Gw tebak keknya yg ini. Eh tapi bukan yang itu deh.

    Dan ternyata bukan semua ini cerita ala Lisa. Teruskan Lis. Bangga dan salut .

LEAVE A COMMENT

Lisa Fransisca
Indonesia

Bercerita melalui rangkaian kata, coretan gambar, dan foto-foto yang diabadikannya saat melakukan perjalanan.

Archives
Instagram
  • Dulu, anggota genk babi adalah orang-orang yang suka makan babi. Semenjak negara api menyerang, banyak yang tak lagi menikmati daging merah. Tapi, semua tetap berteman. Tamat.
.
.
#welovebabi 😹 #drawing #doodle #illustration #unfaedah
  • Keresahan itu membuncah dalam benak. Bagaimana bisa mereka memberikan stigma negatif pada anak-anak broken home, self harm, & korban bullying? Ah, masyarakat kita sudah terlalu lama dibuai stereotype bodoh. Bukankah seharusnya anak-anak itu diberi apresiasi?
.
Sebuah cerpen fiksi yang berangkat dari keresahan pribadi. Iseng disajikan dengan sebuah ilustrasi sederhana. Sila mampir ke lisafrc.com & memberi kritik/saran (link hidup di bio).
.
.
#updateblog #fiksi #cerpen #ilustrasi #sekalikaliserius 😂
  • Iseng yang semakin konstan.
.
Selamat hari jadi ke-4, keluarga kedua!
.
.
#illustration #chibi #karikatur #tektokteam
  • Merayakan hari jadi @tektok_team yang ke-4 di @bookland.cafe daerah Tanjung Barat. Tempatnya nyaman banget, makanannya enak, ada buku2 buat yang suka baca, dan harganya terjangkau. Congratsss Uni @d_iis untuk soft opening kafenya! 👏👏👏
.
Buat yang lagi lewat, yuk melipir. Hehe.
.
.
#booklandcafe #eatreadinspire
  • Diving with manta ray
.
.
#iseng #watercolour #mantaray
  • Rumah tempatku bernaung kau rusak.
Namun, kala ku mencari makan ke ladangmu, kau tembak aku dengan senapan.
Adilkah ini, wahai manusia?
.
.
Nuni, 2 m.o. 🐘
.
.
#whatiftheycantalk #nationalpark
Instagram Drawing Gallery
  • Run into nothing
.
.
#drawing #copic #illustration #イラスト
  • Inside a gulali girl's head you might never know. Don't judge people by their appearance (someone said, not me 😂)
.
.
#copic #drawing #illustration #イラスト #コピック #eleutheromania
  • Found this gothic style illustration when tidying up my room. Made around 2007-2011 (akibat demen V-Kei 😌😂)
.
.
#sketch #illustration #イラスト #ヴィジュアル系
  • となりのトトロ、トトロ
トトロ、トトロ
森の中に昔から住んでる🎶
.
.
#totoro #トトロ #sketch #drawing #fanart #ghibli
  • "Be unique. Be yourself"
.
This emo girl using 'Gorga boraspati' (gecko) as her tattoo. In Batak Toba culture, North Sumatera, Indonesia, this symbol has a deep meaning. To be wise & adaptable.
.
.
#drawing #watercolour #illust #イラスト
  • Sesekali produktif bareng @mad_marble 💪
.
.
#drawing #doodle #watercolour #copic #drawingpen #イラスト