Fiction Health

Aku Bukan Bonekamu, Yah

on
October 9, 2018

Media: Cat air pada kertas

“Hah hah hah hah…”

Aku terbangun. Napasku tersengal-sengal. Ada apa? Rasanya bagai dilanda mimpi buruk.

“Hah hah hah hah…”

Napasku masih tersengal-sengal. Kenapa? Kenapa rasanya tak mau berhenti? Aku menyeka peluh yang bercucuran membasahi pelipis. Kutarik napas dalam dan kuhembuskan perlahan. Berusaha membuat diri menjadi lebih tenang.

Tiba-tiba, aku melihat sebuah keanehan.

“Ka…, kakiku?!” Terbelalak, aku menatap kakiku yang kini melayang di udara. Kualihkan pandang menatap kedua lengan. Kenapa? Kenapa aku melayang di udara?!

Kuedarkan pandang ke sekeliling. Ramai sekali. Ayah sedang berada di sudut ruangan. Hei, bahkan ada ibu dan adikku! Tumben sekali. Sejak ayah dan ibu bercerai, jarang sekali mereka berkunjung ke sini. Aku yang lebih sering mengunjungi mereka.

Aku memaksa diriku bergerak. Otot-ototku seakan tak punya massa. Ah, ringan sekali rasanya. Aku bisa melompat tinggi menembus awan. Berjalan menembus tiang-tiang rumah yang terlihat kokoh. Bahkan, menjawil telinga adikku, Frans, tanpa ia sadari. Tentu saja, karena ia tak bisa merasakan sentuhanku. Ini aneh sekali.

Hei, tunggu! Saat menjawil telinganya, wajah Frans terlihat sembab. Kedua matanya bengkak dan hidungnya memerah. Pun begitu saat aku mendekati ibu untuk memeluknya. Bu, aku rindu. Tapi, kenapa wajahmu pun terlihat sembab?

“Dugaan sementara pihak kepolisian menyatakan bahwa Nana kehabisan darah akibat sayatan benda tajam di pergelangan tangannya. Tak hanya satu, ada banyak bekas luka sayatan di sana. Kami menduga Nana telah berkali-kali melakukan self harm dalam jangka waktu yang cukup lama.” Aku mencuri dengar percakapan seorang polisi dengan ayahku.

“Pak, kami menemukan selembar surat ini di kantong celana almarhum Nana.” Rekan polisi yang lain menyerahkan secarik kertas yang masih terlipat rapi kepada ayah.

“Yah, terima kasih untuk semua yang telah Ayah berikan untukku. Untuk setiap kasih sayang yang tak pernah Ayah ungkapkan dengan kata-kata. Aku tahu Ayah menginginkanku menjadi pianis terkenal sepertimu.

Tapi Yah, aku ingin menjadi ilustrator. Aku ingin membantu orang-orang yang melakukan self harm untuk berhenti melalui gambar-gambarku. Aku ingin mereka tahu kalau mereka tidak sendiri. Karena aku juga bagian dari mereka…”

Kulihat ayah tertunduk lemas seusai membaca selembar surat dariku. Badannya tersungkur ke lantai. Kedua lututnya seakan mati rasa, tak lagi kuat menopang tubuhnya. Air mata yang seakan bertumpuk di pelupuk mata mengalir deras membasahi wajahnya. Semua orang termasuk para polisi mendadak hening, suasana ruangan pun seketika pilu.

Ayah…, apakah aku sudah mati?

***

“Yah, aku mau kuliah jurusan DKV…” Dengan ragu-ragu, aku mendekati ayah yang sedang sibuk mencari siaran televisi kesukaannya. Ayah mengalihkan pandang. Dari televisi, kemudian memandangku.

“Ayah ngelatih kamu dari kecil buat jadi pianis! Bukan supaya kamu jadi anak desain yang gayanya amburadul gitu.”

“Tapi, Yah…”

“Nggak ada tapi-tapi! Kamu akan menjadi pianis seperti ayah. Ayah tahu bakat kamu dan ayah tahu yang terbaik buat kamu.”

Aku terdiam. Tatapanku berubah nanar. Aku lantas meninggalkan ayah seorang diri dan berjalan gontai ke kamar.

“I am falling, I am fading, I am drowning

Help me to breathe

I am hurting, I have lost it all, I am losing

Help me to breathe”

Aku berdiri di depan cermin. Kubiarkan lagu BoA mengalun memenuhi ruangan. Dada ini terasa begitu sesak. Ini kedua kali aku berusaha berbicara pada ayah tentang keinginanku. Tapi, ia tak pernah mendengarkan.

Bagai orang gila aku menangis, lalu tertawa. Menertawakan hidup yang tak pernah bersikap adil padaku. Aku tak memiliki kebebasan. Hidupku penuh dengan tuntutan. Aku lelah.

Seketika rindu merayapi jiwaku. Ibu… Ia satu-satunya orang yang selalu mendengarkan keluh kesahku. Sedangkan ayah hanya peduli dengan permainan pianoku. Aku tahu seharusnya aku bersyukur. Melalui piano, aku telah mengunjungi beberapa negara. Perancis, Jerman, Singapura, dan Praha. Penjualan tiket mini konser yang diadakan di beberapa kota dalam negeri pun terbilang laris.

Dulu, saat ayah dan ibu belum bercerai, ibu selalu menyambutku dengan hangat setiap kali aku pulang dari luar kota ataupun negeri. Ia selalu menanyakan bagaimana permainan pianoku. Bertanya bagaimana rasanya menjadi penampil di panggung. Ibu paham aku seringkali canggung tampil di hadapan banyak orang. Tapi ia selalu yakin aku bisa mengatasinya.

Frans, adikku. Seperti ibu, ia juga selalu mendengarkan keluh kesahku. Bahkan, ia juga mendukung cita-citaku yang tidak sesuai dengan keinginan ayah.

Tiga tahun lalu, ayah dan ibu resmi bercerai. Meski telah menjalani dua kali mediasi dan dibujuk rayu olehku dan Frans, mereka tetap bersikeras untuk berpisah.

“Ayah dan ibu sudah tak lagi sejalan, Nak… Nggak ada lagi yang bisa dipertahankan.” Ibu memberiku pengertian.

Aku tak berterima. Tak jarang aku mengamuk. Kenapa harus berakhir seperti ini? Kenapa?!

Waktu terus bergulir. Sehebat apapun aku mengamuk, keadaan takkan bisa berubah. Keputusan ayah dan ibu sudah bulat. Mereka tak mungkin bersatu kembali. Aku mulai menutup diri. Aku depresi. Aku tak lagi punya tempat mengadu karena ayah selalu sibuk mengatur jadwal tur piano kami tanpa memikirkanku. Ayah, aku hampir gila menghadapi semua tekanan ini!

Memang, aku yang memilih untuk ikut dengan ayah. Aku tak tega membiarkannya hidup seorang diri karena Frans memilih ikut dengan ibu. Hubungan Frans dan ayah tidak begitu baik. Ayah menginginkan Frans menjadi seorang pemusik, tetapi ia ingin menjadi atlet renang. Ayah menentang, tapi ibu selalu mendukung keputusan Frans.

“Ibu, aku rindu…” Aku menyingsingkan piyama yang menutupi pergelangan tangan, mendapati goresan-goresan di sana. Kuraih cutter yang tengah bertengger manis di meja belajar. Kusayat pergelangan tanganku. Menikmati setiap goresan dan luka yang dihasilkan. Kuciumi bau amis di cutter yang melukai tanganku, kujilati darah yang menempel di setiap sisinya. Beginilah caraku menenangkan diri. Cutting.

Aku sudah melakukannya sejak usiaku 15 tahun. Saat itu aku merasa kehilangan teman dan tidak memiliki seorang pun untuk mendengarkanku. Ingin bercerita pada ibu, tapi aku tak ingin dia khawatir. Alhasil, aku hanya memendamnya sendiri. Teman-teman menjauhiku dengan alasan yang tak masuk akal. Mereka tak ingin berteman dengan seorang perempuan sombong. Mereka mulai mencemoohku yang beberapa kali harus izin bepergian keluar kota maupun negeri untuk konser piano.

“Yaelah, ngapain lo sekolah? Udah sana, main piano aja bisa ke Jerman kan? Dasar sombong mentang-mentang jago piano!”

Aku tak mengerti apa yang terjadi. Tekanan seakan tak ada habisnya. Aku semakin sering melakukan cutting setelah ayah dan ibu berpisah. Ayah tak pernah mendengarkan keinginanku. Aku bagaikan boneka marionette, bergerak karena tali yang ia kaitkan pada tubuhku. Tangan untuk bermain piano, kaki untuk melangkah ke berbagai kota atau negara, dan telinga untuk mendengarkan lebih banyak irama dan tempo. Bahkan, ia menambahkan tali pada bibirku agar terus tersenyum meski hatiku meringis.

Aku lupa apa itu kebebasan. Ayah mengatur jadwal latihan dan konser pianoku sedemikian rupa. Aku tak lagi punya waktu untuk diriku sendiri. Sekolah, les dan latihan piano, belajar, kemudian tidur. Begitu setiap hari.

Riuh tangis menderu. Aku memasuki kamarku dan mendapati tante dan omku sedang berdiri di sana. Pun beberapa rekan ayah sesama pemain musik. Aku menerobos kerumunan. Mendapati tubuhku terbujur kaku. Darah di pergelangan tanganku sudah tak tampak. Aku? Apakah aku sudah mati? Ini tidak mungkin. Tidak. Aku belum ingin mati.

“Aku belum ingin matiiiiiii!!!!!” Aku berteriak. Suaraku lantang memenuhi seluruh ruangan.

“Hah hah hah hah…”

Aku terbangun. Mimpi? Aku memandangi kaki dan tanganku. Aku tak melayang. Tak bisa menembus tembok dan melompat tinggi menembus awan. Badanku terbaring di tempat tidur. Kuseka lengan piyamaku, bekas-bekas sayatan itu masih di sana. Bertengger manis. Mengingatkanku akan luka batinku di masa lalu.

I’ve got flaws, I’ve got faults

Keep searching for your perfect heart

It doesn’t matter who you are

We all have our scars

We all have our scars

You say don’t act like a child

But what if its a father I need?

It’s not like you don’t know what you got yourself into

Don’t tell me I’m the one who’s naive

Do you know how hard I’ve tried?

To become who you want me to be

♪ Allison Iraheta – Scars

TAGS
RELATED POSTS
21 Comments
  1. Reply

    Muti

    October 9, 2018

    Aaah… Its hurt. I can feel the pain. Well written tragedy, Lisa. Thumbs up.

  2. Reply

    Evi

    October 9, 2018

    Ughh.. Ceyemm.. Its so deep falling tragedy until do the self harm.. Please dont do that.. Pyughh.. Senang rasanya membaca ini hanya fiction.. In fact.. We must have a stronght mentality to life.. Ganbatee.. Cemungud Kaka.. !!!

  3. Reply

    Citra Rahman

    October 9, 2018

    Ah kirain bakal ada plot twist di akhirnya. Ternyata cuma mimpi ya. Bagus cerpennya, kak.

  4. Reply

    ristiyanto

    October 10, 2018

    Wah ceritanya cukup menyeramkan, tapi ada benarnya juga di kehidupan nyata. Banyak anak yang dipaksa untuk menuruti pilihan orang tuanya. Padahal belum tentu si anak cocok dan menyukai pilihan orang tuanya.

  5. Reply

    INA

    October 10, 2018

    bagus ka cerpennya, ceritanya berasa kaya kisah nyata

  6. Reply

    Harisca Novtalia

    October 10, 2018

    Ceritanya cukup real di dunia nyata cukup menyakitkan, tapi beda yang aku temui dia gak sampai menyakiti dirinya.

  7. Reply

    Deny Oey

    October 10, 2018

    Aih, Lisa berbakat juga jadi cerpenis.. 😄
    Overall background kisahnya bagus. Tentang kesuksesan yang sejatinya membelenggu kebebasan dengan senyum dan tawa palsu..

    Ditambah kisah keluarga dimana orangtua seperti memaksakan kehendak pada anaknya tanpa memikirkan perasaan anaknya tersebut. Nice!

  8. Reply

    Tuty prihartiny

    October 10, 2018

    Selalu suka baca tulisan kak Lis. Sebagai Kancil si Suhu Gunung, tentang kepedulian lingkungan / go green atau cerita fiksi yang ‘sesuatu’. Ditunggu lho, tulisan kak Lis yang berani keluar jalur aman….

  9. Reply

    airin

    October 10, 2018

    Cerpennya bagus. Aku sampe mbayangin kejadian dan alur ceritanya

  10. Reply

    Beni

    October 10, 2018

    I truly love this story. Ceritanya cantik namun kelam. It’s cool.

  11. Reply

    Maya Nirmala Sari

    October 10, 2018

    Aku suka sama lukisannya. Kayak “hidup” dan bercerita. Sesuai dengan alur cerita. Walaupun tragedi, tapi sarat pembelajaran.

  12. Reply

    Kelanakucom

    October 10, 2018

    Suka banget sama ceritanya. Diakhir cerita, tiba-tiba ada kejutan kalau pemeran utama hanya bermimpi. Bagus.. 😍

  13. Reply

    Kartini

    October 10, 2018

    Lisss… Aku bacanya sampe gimana gitu….
    Duuh..
    Kamu bakat nulis fiksi lis.. Aku bacanya sampe “empot2an”

  14. Reply

    Antin Aprianti

    October 10, 2018

    Ya ampun ternyata cuma mimpi.
    Pas baca ini aku jadi inget Azura, tokoh di buku Persona yang suka cutting tangannya.

  15. Reply

    rizki

    October 10, 2018

    tumben neh tektok gengs ga buat tulisan tentang tektoks.. bagus neh tulisannya lis

  16. Reply

    Ifa Mutia

    October 11, 2018

    Sebagai orang tua cerpen ini cukup membuat aku kembali introspeksi diri. Sudahkah aku mendengar suara hati anak anak ku?
    Karena hidup mereka adalah hak mereka, aku hanya dititipkan untuk menjaganya.

  17. Reply

    Dewi Setyowati

    October 11, 2018

    Bisaan sih bikin cerita serem gitu…dan ga terduga ternyata mimpi, hehehe. Keren mbak.

  18. Reply

    Eka Rahmawati

    October 11, 2018

    Ceritanya bagus Kak. Ngalir banget. Aku suka hehehe.

  19. Reply

    Yunita Tresnawati

    October 12, 2018

    Akhirnya baca kisah fiksi karya Lisa. Setelah sukses bikin iri dengan cerita jalan2nya apalagi yang kemarin tiga negara itu. Sekarang kaget karena Lisa bisa meramu tema sederhana jadi cerpen yang bagus. Keren ih

  20. Reply

    Fajar Hidayat

    October 12, 2018

    Ini cerita nyata atau fiksi?

  21. Reply

    Dwi Suharyanti

    October 17, 2018

    Oh My, I really like your writing. Lisa has done a good job. Keep up the good work, Lisa.. aku mau kritik tapi semuanya halus jd aku puji aja yahh 😘😘😘😘

LEAVE A COMMENT

Lisa Fransisca
Indonesia

Bercerita melalui rangkaian kata, coretan gambar, dan foto-foto yang diabadikannya saat melakukan perjalanan.

Archives
Instagram
  • Iseng yang semakin konstan.
.
Selamat hari jadi ke-4, keluarga kedua!
.
.
#illustration #chibi #karikatur #tektokteam
  • Merayakan hari jadi @tektok_team yang ke-4 di @bookland.cafe daerah Tanjung Barat. Tempatnya nyaman banget, makanannya enak, ada buku2 buat yang suka baca, dan harganya terjangkau. Congratsss Uni @d_iis untuk soft opening kafenya! 👏👏👏
.
Buat yang lagi lewat, yuk melipir. Hehe.
.
.
#booklandcafe #eatreadinspire
  • Diving with manta ray
.
.
#iseng #watercolour #mantaray
  • Rumah tempatku bernaung kau rusak.
Namun, kala ku mencari makan ke ladangmu, kau tembak aku dengan senapan.
Adilkah ini, wahai manusia?
.
.
Nuni, 2 m.o. 🐘
.
.
#whatiftheycantalk #nationalpark
  • Membuka foto-foto lama seperti membuka kembali ingatan akan perjalanan yang pernah dilalui. Kalian ngerasa gitu juga enggak sih?
.
Seperti yang tampak pada foto ini. Satu hal yang membawa ingatanku pada masa kecil dimana bermain ketapel dan masak-masakan adalah salah satu permainan yang begitu menyenangkan saat itu. Tak ada play station. Pun begitu dengan smart phone. (Duh, ketahuan deh umurnya 😂).
.
Berbanding terbalik dengan masa kini ya? Walaupun tak dipungkiri, teknologi juga memberikan banyak manfaat dalam kehidupan.
.
.
#chiangrai #childhoodmemories #hilltribe
  • "The Battle of Shoulders" - Puri Fidhini
.
.
#artjakarta2018